Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Monday, October 3, 2011

Tanah Sepak Bola Menjanjikan

 



Tanah perjanjian! Benua Asia kini ibarat raksasa yang bangkit dari tidur dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi anggotanya.
Bisakah Anda membayangkan keadaan di sekitar raksasa yang bangun dari tidurnya? Ya, akan banyak aspek dalam kehidupan yang ikut tergerak. Tentu sepak bola termasuk di dalamnya.
Dalam bidang ekonomi, Cina disebut akan segera mengambil alih posisi Jepang sebagai raksasa Asia dan mengancam Amerika Serikat. Di panggung sepak bola, Korea Selatan dan Jepang kini menjadi pionir meng­harumkan nama Asia di dunia.
Setiap kali FIFA menggelar Piala Dunia, wajar bila kita merasakan kedekatan dengan wakil-wakil Asia yang berlaga di ajang olah raga terakbar itu. Siapa yang tak bangga ketika Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002?
Begitu pula ketika Hidetoshi Nakata pernah menyita perhatian di Serie A, atau Park Ji-sung di Premier League, kita ikut bangga.
Tapi, sadar atau tidak, sepak bola Asia di mata klub-klub Eropa adalah salah satu mainan menarik yang ingin dikuasai. Bila dahulu pelaut-pelaut Eropa melihat rempah-rempah di Asia sebagai sumber keuangan baru negara, kini klub-klub Benua Biru merasakan hal yang sama. Lapangan hijau Asia adalah tanah perjanjian, tanah emas bernilai tinggi.
Tim ekonomi Manchester United menyebut terdapat 190 juta penggemar sepak bola tim tersebut di Asia, dari total 300 juta di seluruh dunia.
Asia menjadi penting bagi siapa yang ingin berperan dalam fenomena global. Pertumbuhan ekonomi Asia sangat menyilaukan klub-klub Eropa.
Ketika Direktur Komersial Man. United, Richard Arnold, menyebut Asia sebagai pasar potensial, mereka pun mengirim­kan trofi Premier League ke Hong Kong, Cina, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura selama Juni dan Juli 2011.
Bau fulus tak bisa dienyahkan dari alasan kegiatan ini. "Kami ingin para penggemar di Asia juga menjadi bagian sejarah klub dengan mendekatkan trofi ke mereka," ujar Arnold.
Ketika Real Madrid mengun­jungi Cina untuk pertama kali pada musim panas 2003, manajer pemasaran El Real ketika itu, Jose Angel Sanchez, meng­aku tim tersebut meng­an­tongi 40 juta dolar AS dari ber­bagai kegiatan. Jumlah ini nyaris menyamai biaya pembelian David Bekcham dari Manchester United, 35 juta euro, tak lama sebelum terbang ke Negeri Tirai Bambu.
Setali tiga uang, para peng­usaha pun mendompleng popula­ritas klub-klub elite Eropa itu. Lihat bagaimana puasnya pihak perusahaan otomotif Audi yang mensponsori Real Madrid sejak 2003.
"Kehadiran Real Madrid di Asia telah mendongkrak brand Audi, mendukung loyalitas pelanggan dan meningkatkan penjualan Audi A4," ujar Gao Yujing, Manajer Audi Cina ketika itu.
Aktivitas masa pramusim liga-liga di Eropa terus meng­alami perubahan. Saya tak membayang­kan betapa letihnya para pemain Arsenal, Liverpool, dan Chelsea yang melakukan penerbangan jarak jauh dari Inggris ke Malaysia dan melakukan berbagai aktivitas, sosial dan komersial.
Tapi tak usah heran bila di berbagai sudut kota Kuala Lumpur akan bertebaran manusia memakai jersey klub-klub elite Premier League itu. Mereka berdatangan dari berbagai negara, termasuk penggemarnya asal Indonesia.
Salahkah saya bila menyebut euforia menyaksikan langsung pesepak bola idola yang selama ini disaksikan melalui layar televisi merupakan impian mene­­­bus kegagalan sepak bola domestik?
Sepakat atau tidak, antusiasme   masyarakat Asia menyambut kedatangan klub seperti Liverpool hingga Real Madrid di mata insan sepak bola Eropa tak ubahnya sebagai pasar menggiurkan.
Tapi, selain faktor ekonomi jangan lupakan unsur trust dalam setiap kunjungan tim-tim top Eropa itu. Kepercayaan terhadap federasi sepak bola di negara yang dianggap sebagai tanah emas memegang peranan penting.
Saya tak bisa membayangkan perasaan promotor di Tanah Air bila tahun lalu sudah menjalin deal bisnis menggelar laga persahabatan klub Eropa dengan tim nasional Indonesia pada Juli ini. Kisruh berkepanjangan di tubuh PSSI sudah pasti mengikis unsur kepercayaan pihak asing.
Dalam situasi seperti ini, negara tetangga kita sangat paham untuk mengambil keuntungan, dan dengan bangga berkata, "We are truly Asia. Silakan datang dan kabarkan pada dunia potensi negara kami."

No comments: