Sekitar 2.000 tahun lalu, setidaknya itu menurut catatan sejarah, kerajaan Cina punya sebuah kegiatan yang dijadikan hiburan di antara mereka. Namanya tsu chu, yang kemudian diterjemahkan sebagai menendang bola memakai kaki.
Benarkah sepak bola yang kini kita kenal berasal dari Cina? Menendang bola menuju sasaran berlubang kecil dengan diameter sekitar 30-40 cm dalam jaring yang berada di ketinggian sembilan meter dari tanah ternyata menjadi hiburan yang menyenangkan kaisar Cina ketika itu.
Bahkan, pada 255-206 sebelum masehi, kabarnya tsu chu digunakan untuk melatih tentara kerajaan Cina.
Sejarah pun mencantumkan orang-orang Jepang sebagai pengembang tsu chu. Mereka memilik nama sendiri untuk permainan menyenangkan itu, yakni kemari. Tapi catatan sejarah lain menyebutkan bahwa Jepang sesungguhnya memiliki permainan sejenis dengan tsu chu.
Well, sekitar 2.000 tahun sebelum masehi, orang Yunani kuno diketahui gemar memainkan permainan yang disebut episkiros. Mereka menendang dan melempar bola dalam sebuah area terbuka yang ditandai garis batas.
Menariknya, ketika itu episkiros dimainkan oleh 12 orang, terdiri dari pria dan wanita. Karena para pria bertubuh tegap dan atletis, mereka pun menjadikan episkiros sebagai ajang demonstrasi dan penghargaan atas tubuhnya.
Di era Kekaisaran Romawi, mereka meniru episkiros dengan menambahkan sejumlah trik dan kombinasi permainan. Namanya pun berubah menjadi harpastum, yang berarti permainan bola kecil.
Julius Caesar juga menggunakan harpastum untuk menjaga kebugaran fisik tentara sehingga siap untuk bertempur kapan saja.
Tentara belajar kepada sepak bola? Hmm, rasanya menjadi aneh ketika di sini pemain sepak bola kita yang diharuskan belajar dari tentara. Seolah ilmu disiplin dan contoh terbaik kerja sama tim hanya menjadi milik tentara.
Sejarah Roma mengatakan sepak bola menular ke orang Inggris ketika negara itu menduduki Roma. Tapi warga Inggris punya sejarah sendiri dalam pengakuan sebagai bangsa pencipta sepak bola.
Kita boleh setuju atau tidak, namun pria-pria Inggris mengaku sebagai pencipta sepak bola modern dengan aturannya. Olah raga ini sangat populer di Inggris pada abad ke-7. Mereka mengklaim sebagai penentu bagaimana sepak bola itu dimainkan oleh dua tim dalam mencari kemenangan.
Ada apa kok saya menggali kembali sejarah penciptaan sepak bola yang penuh riak pengakuan oleh beberapa bangsa?
Menikmati suasana di Stadion Gelora Bung Karno ketika Indonesia mengalahkan Turkmenistan 4-3 dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2014, Kamis (28/7), membawa ingatan saya kepada asal-muasal sepak bola dan siapa pemiliknya.
"Football without frontiers". Masih ingat slogan di Piala Eropa 2000? Ya, kampanye bahwa sepak bola itu tanpa batas dipilih tuan rumah Belanda dan Belgia dalam upaya mengenyahkan rasialisme dari tubuh sepak bola.
Intinya, sepak bola sepantasnya dinikmati bersama tanpa ada perbedaan status, baik itu warna kulis, ras, hingga agama. Tujuannya tentulah agar olah raga ini berjalan damai dan menjadi hiburan seluruh pencinta sepak bola di muka bumi.
Tolak Politik
Di dalam SGBK, teriak histeris dan nyanyian sekitar 88 ribu orang yang mendukung Firman Utina dkk. adalah bagian dari sebuah perasaan memiliki.
Melalui media Twitter, seorang pembaca menyampaikan niatnya berkaitan dengan geliat suporter Indonesia yang terus menjaga euforia kecintaan terhadap timnas sejak Piala AFF 2010.
Begini isi pesannya, "Bung, tak peduli siapa lawan kita di babak berikut, semua sama kuat. Yang penting kita mendukung timnas sampai bikin keder semua suporter lain di dunia."
Bukankah semangat seperti ini yang sepak bola Indonesia butuhkan setelah lama terbelenggu dalam pertarungan perebutan kursi penguasa di federasi?
Saya yakin, puluhan ribu suporter yang datang ke stadion dan jutaan masyarakat yang menonton aksi Tim Garuda melalui layar kaca tak peduli siapa yang mengurus federasi sepak bola kita selama menjalankannya dengan benar.
Gerakan yang ingin menjauhkan politik dari sepak bola Indonesia adalah bukti habisnya kesabaran masyarakat melihat PSSI dijadikan alat menuju target yang lain, termasuk politik, serta bagian dari bisnis sang penguasa.
Bahkan, saya sempat mendapat pertanyaan yang tak bisa saya berikan jawabannya. "Bung, benarkah PSSI dan sepak bola kita dijadikan alat mencuci uang?"
Seharusnya, sepak bola menjadi tujuan akhir dari kursi-kursi kekuasaan yang diperebutkan, bukan alat perantara kepentingan pribadi atau kelompok.
Saya yakin para pengurus PSSI di semua periode punya jawaban ideal ketika ditanya apakah tujuan mereka memburu kursi kekuasaan dan menggelar kompetisi. Tapi dalam pelaksanaanya, ada yang lupa sejarah lahirnya sepak bola dan perannya dalam kehidupan masyarakat.
Dalam berbagai tanya-jawab dengan penggemar sepak bola, saya menegaskan posisi olah raga ini dalam kehidupan kita.
Sepak bola Indonesia bukan milik kelompok yang menang atau kalah dalam pertarungan memperebutkan kursi PSSI. Sepak bola itu milik kita, seluruh masyarakat yang mencintai olah raga dan negara ini. #
No comments:
Post a Comment