Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Monday, October 3, 2011

Komunikasi Sepak Bola

 



"You and your paper can f**k off!" Maaf bila tulisan ini dimulai dengan makian yang sungguh tak pantas disampaikan ke orang lain, terlebih di depan umum.
Tapi kata-kata yang disampai­kan Sir Alex Ferguson kepada wartawan Daily Mail, Bob Cass, membawa saya pada sebuah arti dan peran media massa.
Makian Sir Alex kepada sang wartawan terkait pemberitaan soal ucapan pelatih Manchester United itu tentang kemungkinan Wesley Sneijder datang ke Old Trafford. Bukan tak mungkin strategi Sir Alex untuk men­dapat­kan gelandang asal Internazionale itu rusak karena berita yang ditulis Bob Cass.
Apa sih isinya? "Bila Sneijder mau bergabung, dia harus menerima kontrak yang kami tawarkan. Bila tidak, kami memiliki opsi lain, tak perlu lagi ada pembicaraan."
Dalam tayangan ESPN Deportes, tampak Sir Alex yang menghapiri Bob Cass ketika sang wartawan bersama pemburu berita lain menunggu pasukan Man. United. Sir Alex merasa ucapannya telah dipelintir.
Apakah Sir Alex sudah begitu percaya diri dengan memilih kata-kata itu kepada wartawan? Ataukah orang yang disegani dan dihormati dalam panggung sepak bola Inggris itu terbiasa memakai makian dalam berkomunikasi dengan orang lain?
Dr. Laurence J. Peter, seorang pendidik dan penulis di Amerika pernah memberi nasihat yang layak kita cermati. Begini katanya, “Speak when you are angry, and you’ll make the best speech you’ll ever regret.”
Menurutnya, agar tidak ada penyesalan mendalam di kemudian hari, sebaiknya kita ber­hati-hati dalam berkomunikasi dengan orang lain, apalagi ketika sedang marah.
Hmm, saya tak ingin mengajak Anda ke dalam pusaran strategi transfer ala Sir Alex. Lebih enak mencermati bagaimana aktor-aktor sepak bola dunia berkomunikasi. Termasuk peranan media massa dalam melam­bungkan popularitas sepak bola dan pelakunya.
Ingatan saya pun kembali kepada peran dan media massa. Adakah yang membantah bahwa media massa sangat berperan dalam perkembangan atau bahkan perubahan pola tingkah laku dari suatu masyarakat?
Media massa merupakan sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas.
Namun, pembunuhan karakter seseorang sangat mudah dilaku­kan melalui media massa. Atas isi berita dan opininya, media dipandang seperti senjata dan amunisi di masa perang yang mampu membidik sasaran dengan mudah sekaligus menghancurkannya.
Percaya atau tidak, nama besar Pele tercoreng ketika media massa ramai-ramai memberitakan betapa buruknya prediksi legenda sepak bola hidup dari Brasil itu.
Mau contoh? Tahun 1998, ia menyebut Spanyol favorit juara di Piala Dunia. Nasib Tim Matador kemudian adalah dipermalukan karena tak lolos dari babak I.
"Sebuah negara Afrika akan menjuarai Piala Dunia sebelum tahun 2000." Ucapan Pele ini tidak terbukti hingga Afrika Selatan menjadi tuan rumah PD 2010.
Lalu di Piala Dunia 2002, Pele dengan yakin mengatakan Argentina dan Prancis akan bertemu di final, serta Brasil tidak lolos dari fase grup. Well, kedua negara ini tersingkir di babak I. Prancis bahkan tanpa mencetak sebiji gol. Siapa juaranya? Selecao!
Pencipta Budaya
Para politisi di seluruh dunia tentu tak akan membantah pernyataan berikut: siapa yang menguasai informasi, merekalah yang akan menguasai dunia!
Ingat, sebuah organisasi media memiliki kemampuan untuk dibaca, didengar, dan disaksikan oleh kelompok masyarakat yang besar dalam sebuah negara, hingga belahan benua lain.
Karena media mampu menjangkau lebih banyak orang daripada institusi lain dalam sebuah negara, sejak dahulu media disebut telah ”mengambil alih” peran sekolah, orang tua, atau bahkan agama.
Itulah sebabnya saluran komunikasi mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi kepada publik. Kaum sosiolog menilai besarnya peran media dalam mencerminkan dan menciptakan budaya di masyarakat.
Budaya apakah yang kini ditanam media massa di Tanah Air?
Perkembangan social media di bumi ini juga patut mendapat perhatian. Kini, informasi begitu cepat sampai ke orang lain, dan tanpa sensor. Sebelum dikabarkan radio atau televisi, sebelum koran-koran terbit esok hari, bahkan terkadang belum lagi media on-line menulisnya, kita sudah mengetahui hasil per­tandingan yang tidak disiarkan televisi melalui tweet penonton yang hadir di stadion.
Belakangan, saya mencermati betapa social media kerap dijadi­kan medan "pertarungan" dua kubu sepak bola di Tanah Air. Kubu A dengan mudah mengejek kubu B yang dinilai gagal mem­pertahankan kekuasaan. Kubu B tak kalah sering menghina idealisme kubu A.
Mereka yang netral dan bekerja pada porsinya divonis berpihak ke kubu lain karena melihat sesuatu tidak dari sudut yang sama. Kira-kira seperti itulah perumpaannya. Lalu, budaya apa yang ditanam? Sifat dendam, curiga, hingga sensitif berlebihan.
Media massa dituntut melaksanakan fungsinya sebagai kontrol sosial, saluran informasi, edukasi, dan mem­bangun opini publik. Selama semua itu dikerjakan secara cerdas, bijak, dan profesional, tentu budaya positif yang dikembang­kan di masyarakat. Termasuk informasi sepak bola. #

No comments: