"Pemain kita harus berjuang mati-matian di lapangan. Patah kaki biasa, kalau perlu mati di lapangan untuk tim nasional Indonesia."
Sekelumit perbincangan di dunia maya ini menggelitik hati saya. Kalau patah kaki saja sudah mengancam asap dapur karena pemain sulit kembali tampil ke dalam bentuk permainan terbaiknya, apalagi bila harus berhenti bernafas dalam usia dini?
Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah pemain yang memberikan nyawanya untuk tim nasional mendapat jaminan kesejahteraan terhadap istri dan anaknya?
Derek Dooley. Nama ini memang asing bagi kita. Dia adalah pesepak bola di Inggris yang tutup usia pada 5 Maret 2008 dalam usia 78 tahun. Tapi kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman hidupnya, termasuk memahami arti kepahlawanan serta persatuan dalam sepak bola.
Sejak kecil Dooley adalah pencinta sejati Sheffield Wednesday, klub dari Kota Sheffield yang pernah empat kali menjuarai Divisi I Liga Inggris. Terakhir kali mereka lakukan pada musim 1929/30. Nama-nama seperti Des Walker, Chris Waddle, atau David Hirst pernah ngetop di Indonesia bersama klub berjulukan The Owls alias Si Burung Hantu itu.
Impian Dooley kecil adalah mengenakan jersey Sheffield Wednesday. Tapi panggilannya semasa remaja menunjukkan penilaian para pelatih. Sebagai seorang striker, permainan Dooley dinilai terlalu sederhana, bahkan bak seekor anak itik yang jelek rupa di antara rekan-rekannya.
Jalanan di sekitar rumahnya merupakan arena Dooley melatih skill sepak bola, sekaligus tempat yang menyenangkan hati, tanpa ada yang menghina. Kedua orang tua yang bekerja sebagai buruk pabrik sulit memberikan hiburan yang mahal. Ia berhenti sekolah di usia 14 tahun dan menjadi pekerja di pabrik pembuat alat bantu pendengaran. Namun ia tak melupakan mimpi bermain mengenakan seragam Wednesday.
Setelah sempat disepelekan, akhirnya Dooley berhasil menembus tim junior Sheffield Wednesday. Tahun 1947, tak lama setelah ia merayakan ulang tahun yang ke-17, Dooley menjadi pemain profesional. Tapi ia masih dipandang sebelah mata.
Suatu ketika, kesempatan membela tim senior datang dan Dooley mencengangkan banyak orang. Di lapangan, sang striker memperlihatkan kecepatan yang mengagumkan, kuat dan tak mengenal takut. Ia selalu siap berduel memperebutkan bola.
Dooley pernah mencetak 46 gol dalam 30 pertandingan semusim. Ia menjadi pemain yang dielu-elukan suporter Wednesday dan dipuji pengurus klub.
Roda itu berputar. Pada 14 Februari 1953, modal penting Dooley dalam meraih kejayaan runtuh. Di hari ketika orang merayakan Valentine's Day, kaki kanannya patah dalam sebuah pertandingan melawan Preston North End di Deepdale. Saat hendak mengejar bola yang diberikan rekannya, Albert Quixall, Dooley bertabrakan dengan kiper George Thompson.
Setelah sembilan pekan, Dooley berniat meninggalkan Rumah Sakit Preston Royal Infirmary. Namun kakinya ternyata tak merasakan apa-apa. Dokter memutuskan kaki kanan tersebut harus diamputasi agar nyawanya bisa diselamatkan.
Bisakah Anda membayangkan seorang pesepak bola berusia 23 tahun yang berada di puncak karier, sedang menunggu panggilan untuk membela tim nasional, dan baru melangsungkan pernikahan, harus kehilangan kaki kanannya?
"Dalam hati dan pikiran, saya masih terus mengejar bola," begitu Dooley pernah bercerita melalui tulisanya di media massa.
Singkat cerita setelah menjadi pengangguran dan hidup susah, Dooley kemudian mendapat pekerjaan sebagai jurnalis lalu bekerja di perusahaan roti milik petinggi Wednesday. Februari 1971, Dooley diangkat sebagai manajer Wednesday untuk kemudian dipecat (1973) oleh klub yang ia puja seumur hidup.
Tahu siapa yang menyelamatkan kehidupan pengangguran berkaki satu itu? Rival bebuyutan Sheffield Wednesday, yakni Sheffield United. Setelah menjabat sebagai commercial manager, Dooley dipercaya menjadi direktur, ketua klub hingga akhirnya duduk di kursi Wakil Presiden Sheffield United.
Pada 5 Maret 2008, Dooley tutup usia. Di sinilah saya menemukan pelajaran yang bisa ditiru oleh insan sepak bola Indonesia. Sehari setelah Dooley meninggal, kedua kubu yang bermusuhan, Sheffield Wednesday dan Sheffield United sama-sama menyatakan berduka cita dan membuat buku duka tersendiri.
Pihak Sheff. United mengumumkan akan menamakan akademi sepak bola mereka dengan mantan ketua klub itu. Keesokan harinya, kubu Sheff. Wednesday mengatakan akan mendirikan patung untuk menghormati mantan pemain mereka tersebut.
Ketika Wednesday hendak bertanding melawan Queens Park Rangers di liga dan Chelsea di perempat final Piala FA, mereka memberikan waktu untuk mengheningkan cipta mengenang sosok Derek Dooley.
Lalu, hal yang tak mungkin terlihat tanpa pengorbanan Dooley adalah berkumpulnya ribuan penggemar dua tim Kota Sheffield yang bermusuhan itu dengan damai pada 14 Maret 2008. Pemakaman Dooley berlangsung hikmat dan membuat ribuan orang dari dua kubu yang kerap saling serang duduk dengan damai.
Nah, siapa bilang sepak bola tak bisa mendamaikan dua kubu yang bermusuhan? Well, semua kembali kepada cara kita memandang arti dan kegunaan sepak bola dalam hidup. Bila sepak bola hanya dijadikan alat untuk meraih kepentingan dan keagungan kelompok, siapa yang mau mati di lapangan? #
Sekelumit perbincangan di dunia maya ini menggelitik hati saya. Kalau patah kaki saja sudah mengancam asap dapur karena pemain sulit kembali tampil ke dalam bentuk permainan terbaiknya, apalagi bila harus berhenti bernafas dalam usia dini?
Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah pemain yang memberikan nyawanya untuk tim nasional mendapat jaminan kesejahteraan terhadap istri dan anaknya?
Derek Dooley. Nama ini memang asing bagi kita. Dia adalah pesepak bola di Inggris yang tutup usia pada 5 Maret 2008 dalam usia 78 tahun. Tapi kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman hidupnya, termasuk memahami arti kepahlawanan serta persatuan dalam sepak bola.
Sejak kecil Dooley adalah pencinta sejati Sheffield Wednesday, klub dari Kota Sheffield yang pernah empat kali menjuarai Divisi I Liga Inggris. Terakhir kali mereka lakukan pada musim 1929/30. Nama-nama seperti Des Walker, Chris Waddle, atau David Hirst pernah ngetop di Indonesia bersama klub berjulukan The Owls alias Si Burung Hantu itu.
Impian Dooley kecil adalah mengenakan jersey Sheffield Wednesday. Tapi panggilannya semasa remaja menunjukkan penilaian para pelatih. Sebagai seorang striker, permainan Dooley dinilai terlalu sederhana, bahkan bak seekor anak itik yang jelek rupa di antara rekan-rekannya.
Jalanan di sekitar rumahnya merupakan arena Dooley melatih skill sepak bola, sekaligus tempat yang menyenangkan hati, tanpa ada yang menghina. Kedua orang tua yang bekerja sebagai buruk pabrik sulit memberikan hiburan yang mahal. Ia berhenti sekolah di usia 14 tahun dan menjadi pekerja di pabrik pembuat alat bantu pendengaran. Namun ia tak melupakan mimpi bermain mengenakan seragam Wednesday.
Setelah sempat disepelekan, akhirnya Dooley berhasil menembus tim junior Sheffield Wednesday. Tahun 1947, tak lama setelah ia merayakan ulang tahun yang ke-17, Dooley menjadi pemain profesional. Tapi ia masih dipandang sebelah mata.
Suatu ketika, kesempatan membela tim senior datang dan Dooley mencengangkan banyak orang. Di lapangan, sang striker memperlihatkan kecepatan yang mengagumkan, kuat dan tak mengenal takut. Ia selalu siap berduel memperebutkan bola.
Dooley pernah mencetak 46 gol dalam 30 pertandingan semusim. Ia menjadi pemain yang dielu-elukan suporter Wednesday dan dipuji pengurus klub.
Roda itu berputar. Pada 14 Februari 1953, modal penting Dooley dalam meraih kejayaan runtuh. Di hari ketika orang merayakan Valentine's Day, kaki kanannya patah dalam sebuah pertandingan melawan Preston North End di Deepdale. Saat hendak mengejar bola yang diberikan rekannya, Albert Quixall, Dooley bertabrakan dengan kiper George Thompson.
Setelah sembilan pekan, Dooley berniat meninggalkan Rumah Sakit Preston Royal Infirmary. Namun kakinya ternyata tak merasakan apa-apa. Dokter memutuskan kaki kanan tersebut harus diamputasi agar nyawanya bisa diselamatkan.
Bisakah Anda membayangkan seorang pesepak bola berusia 23 tahun yang berada di puncak karier, sedang menunggu panggilan untuk membela tim nasional, dan baru melangsungkan pernikahan, harus kehilangan kaki kanannya?
"Dalam hati dan pikiran, saya masih terus mengejar bola," begitu Dooley pernah bercerita melalui tulisanya di media massa.
Singkat cerita setelah menjadi pengangguran dan hidup susah, Dooley kemudian mendapat pekerjaan sebagai jurnalis lalu bekerja di perusahaan roti milik petinggi Wednesday. Februari 1971, Dooley diangkat sebagai manajer Wednesday untuk kemudian dipecat (1973) oleh klub yang ia puja seumur hidup.
Tahu siapa yang menyelamatkan kehidupan pengangguran berkaki satu itu? Rival bebuyutan Sheffield Wednesday, yakni Sheffield United. Setelah menjabat sebagai commercial manager, Dooley dipercaya menjadi direktur, ketua klub hingga akhirnya duduk di kursi Wakil Presiden Sheffield United.
Pada 5 Maret 2008, Dooley tutup usia. Di sinilah saya menemukan pelajaran yang bisa ditiru oleh insan sepak bola Indonesia. Sehari setelah Dooley meninggal, kedua kubu yang bermusuhan, Sheffield Wednesday dan Sheffield United sama-sama menyatakan berduka cita dan membuat buku duka tersendiri.
Pihak Sheff. United mengumumkan akan menamakan akademi sepak bola mereka dengan mantan ketua klub itu. Keesokan harinya, kubu Sheff. Wednesday mengatakan akan mendirikan patung untuk menghormati mantan pemain mereka tersebut.
Ketika Wednesday hendak bertanding melawan Queens Park Rangers di liga dan Chelsea di perempat final Piala FA, mereka memberikan waktu untuk mengheningkan cipta mengenang sosok Derek Dooley.
Lalu, hal yang tak mungkin terlihat tanpa pengorbanan Dooley adalah berkumpulnya ribuan penggemar dua tim Kota Sheffield yang bermusuhan itu dengan damai pada 14 Maret 2008. Pemakaman Dooley berlangsung hikmat dan membuat ribuan orang dari dua kubu yang kerap saling serang duduk dengan damai.
Nah, siapa bilang sepak bola tak bisa mendamaikan dua kubu yang bermusuhan? Well, semua kembali kepada cara kita memandang arti dan kegunaan sepak bola dalam hidup. Bila sepak bola hanya dijadikan alat untuk meraih kepentingan dan keagungan kelompok, siapa yang mau mati di lapangan? #
No comments:
Post a Comment