Malaysia 1997. Meliput Piala Dunia U-20 di negara tetangga itu menyadarkan saya betapa pentingnya panggung unjuk kemampuan bagi pesepak bola muda. Satu hal lagi, arti sebuah mimpi.
Pengalaman ditempa dalam kompetisi yang penuh tantangan dan ujian kekompakan sejak usia muda telah membentuk pemain menjadi pelakon kelas dunia. Mereka yang mampu mencermati pelajaran dari turnamen bergengsi ini bisa mencapai tangga tertinggi sepak bola, baik secara individu maupun tim.
Dari ajang FIFA U-20 World Cup kita kemudian mengenal bintang kelas dunia dari Diego Maradona, Robert Prosinecki, hingga Lionel Messi. Tentu tak semua pemain yang tampil di turnamen ini berhasil lulus ujian dan menjadi aktor-aktor utama di panggung sepak bola dunia ketika dewasa. Tak peduli merekalah bintang kejuaraan saat itu.
Piala Dunia Junior, begitu orang-orang menyebut ajang ini, terkadang bak perangkap bagi anak-anak muda. Mimpi yang dibawa ketika menginjakkan kaki di turnamen ini seolah berwajah dua.
Pertama, mimpi penuh keyakinan akan masa depan yang lebih baik setelah perjuangan dan pengorbanan sejak masa kecil. Kedua, mimpi terlarang yang akan menjerat ke dalam lubang bernama "overconfidence."
Ketika mahkota dikenakan di kepala kita, benarkah kemampuan memengaruhi orang lain otomatis muncul sehingga posisi kita diakui bukan melulu karena kekuasaan yang ada dalam genggaman?
Di partai final 1997, wartawan peliput kejuaraan diberikan formulir untuk menentukan siapa peraih Golden Ball. Ketika itu, pilihan saya jatuh kepada Juan Riquelma dan Pablo Aimar dari Argentina di peringkat satu dan dua. Namun Nicolas Olivera dari Uruguay yang terpilih sebagai Pemain Terbaik.
Bukan karena Uruguay kalah 1-2 dari Argentina di final oleh gol Esteban Cambiasso dan Diego Quintana, tetapi saya menyorot kiprah Nicolas Olivera pascaturnamen.
Usai kejuaraan, Olivera hengkang ke Spanyol membela Valencia, Sevilla, Valladolid, hingga Cordoba. Well, berapa banyak informasi mengenai striker ini yang lekat di benak Anda?
Bila kompetisi Eropa dan tim nasional kita pakai sebagai indikator daya sinar di panggung sepak bola, sosok Olivera kalah terang dari Michael Owen, striker Inggris ketika itu. Pun bila dibandingkan dengan kontribusi Shunsuke Nakamura untuk klub dan negaranya, Jepang.
Mimpi dan Singgasana
Contoh lain. Adailton Martins pulang dari Malaysia dengan membawa trofi Sepatu Emas. Dari lima pertandingan, striker Brasil ini mengoleksi 10 gol. Dalam jumpa pers usai Brasil mengalahkan Korea Selatan 10-3, Adailton menjadi primadona dan dihadapkan pada pertanyaan soal masa depannya.
"Belum, saya belum ingin bermain di Eropa," ujarnya ketika itu. Tapi di tahun yang sama, Adailton hengkang ke Italia membela Parma, lalu pindah ke Paris SG (Prancis), Hellas Verona (Italia), hingga kini bermain untuk FC Vaslui di Rumania.
Coba bandingkan kiprah Adailton usai turnamen dengan Damien Duff yang membawa Repulik Irlandia meraih peringkat ketiga di Malaysia 1997. Atau Thierry Henry dan David Trezeguet yang ketika itu membela Prancis hingga perempat final.
Apakah garis besar dari dua nama dengan mahkota di kepala yang saya jadikan contoh? Hati-hati menyandingkan mimpi dengan "singgasana" yang kini kita duduki. Embusan angin overconfidence akan berubah menjadi kerikil dalam perjalanan mencapai tujuan.
Mari mundur ke tahun 1983. Bintang kejuaraan Piala Dunia U-20 di Meksiko kala itu adalah Geovani Faria da Silva dari Brasil. Gelandang serang yang pernah membela Bologna (Italia) dan Karlsruhe (Jerman) di awal 1990-an hanya punya 23 penampilan bersama Selecao tanpa pernah mencicipi aroma Piala Dunia.
Tapi dari PD Junior 1983 itu, dunia kemudian mengenal Marco van Basten sebagai salah satu bomber kelas elite. Van Basten memakai turnamen penting ini menjadi fondasi karier, bukan puncak penampilan.
Apakah Olivera dan Adailton terlalu percaya diri? Bukan itu kesimpulannya, melainkan ajakan bersikap bijak dan waspada ketika mahkota ada di kepala. #
No comments:
Post a Comment