Perjalanan dari Nusa Tenggara Timur baru-baru ini mengingatkan saya suatu hal yang pernah ditegaskan para dosen di Universitas Prasetiya Mulya Business School, Jakarta. Bukan hanya soal bisnis dan melakoni usaha, tetapi juga berkaitan dengan sepak bola.
Dari sejumlah aset alam dan peluang bisnis yang terhampar di hadapan, saya menyadari suatu hal yang juga menjadi kekecewaan. Kenapa harus orang luar yang cepat dan “rakus” melihat opportunity di daerah sendiri? Pengalaman dan karakter lingkungan di Ibu Kota bisa diibaratkan melihat daerah di NTT dari ketinggian berbeda.
Perumpaan yang mudah adalah, luas pandangan bila kita berdiri di tanah jelas kalah jauh bila kita berdiri di atas lahan yang lebih tinggi, seperti tangga atau undak-undakan. Dalam penciuman bisnis, helicopter view adalah sebuah perumpaan yang dipakai untuk melihat suatu permasalahan secara umum.
Dengan melihat dari ketinggian yang lebih baik, kita bisa semakin mengetahui langkah apa yang sebaiknya diambil dalam menyelesaikan sesuatu, merencanakan, serta mengambil keputusan.
Helicopter view juga bisa dipakai untuk menjawab kenapa pengelola Conmebol, federasi sepak bola Amerika Latin, sejak 1993 memutuskan untuk mengirimkan undangan ke negara dari federasi lain agar berpartisipasi di ajang Copa America. Tim undangan yang reguler biasanya hadir dari zona Concacaf yang punya kedekatan secara geografis dan kultural dengan negara-negara Latin.
Karena anggota Conmebol hanya terdiri dari 10 negara, tentu mendekatkan level Piala Amerika dengan Piala Eropa butuh strategi lain. UEFA sebagai federasi sepak bola Benua Biru, memiliki 53 asosiasi sepak bola sehingga memudahkan mereka membentuk kompetisi yang punya nilai jual tinggi, baik kepada televisi peminat hak siar maupun kepada sponsor.
Pertanyaan lain yang bisa juga memakai helicopter view adalah menyangkut penampilan dan kualitas permainan tim tuan rumah Copa America 2011. Usai Argentina ditahan Kolombia 0-0 di laga kedua Grup A, keraguan menimpa tim asuhan Sergio Batista. Wajar, karena di laga pertama pun Argentina bermain seri 1-1 melawan Bolivia. Ironis, tuan rumah bahkan tertinggal lebih dahulu.
Melepaskan diri dari status pengagum Lionel Messi, Carlos Tevez, atau Gonzalo Higuain, kita akan lebih mudah melihat dari berbagai faktor kenapa permainan Argentina sulit menjauh dari Uruguay dalam jumlah koleksi gelar juara, serta mengulangi prestasi 1959 ketika menjadi tuan rumah kejuaraan serupa. Terakhir kali Argentina juara di rumah sendiri terjadi 52 tahun silam dengan mengungguli Brasil dalam sistem kompetisi penuh yang diikuti sembilan negara (minus Venezuela).
Salah satu sudut pandang membahas Argentina tentulah mengaitkan nama Juan Pablo Carrizo dalam skuad pilihan Sergio Batista. Ya, kiper asal River Plate ini merupakan pesepak bola tunggal yang berkompetisi di dalam negeri. Bagaimana prestasi River Plate saat ini? Terkena degradasi untuk pertama kali sepanjang sejarah klub tersebut.
Apakah faktor ini mutlak dijadikan kambing hitam penampilan mengkhawatirkan Argentina? Tentu tidak. Itu sebabnya kita melihat persoalan tim ini dari sudut yang lebih tinggi. Ketidakpaduan tim berjulukan La Albiceleste itu salah satunya bisa disorot akibat hambatan waktu menyatukan gaya bermain yang diinginkan sang pelatih. Ingat, salah satu, bukan satu-satunya.
Sulit memang bukan berarti tak mungkin bagi Argentina meraih titel juara yang ke-15. Namun ibarat sekelompok tentara elite tanpa pemimpin, pasukan La Albiceleste seperti bertempur dengan strategi di benak masing-masing dan lawan bisa membaca pergerakan mereka.
Sebagai pelatih, Sergio Batista dituntut memiliki kemampuan seperti burung elang. Dari ketinggian yang dibutuhkan, seekor elang bisa melihat mangsanya dengan jelas dan situasi di sekeliling buruan. Batista tak akan ragu-ragu menerapkan strategi dengan materi brilian di timnya yang dinilai cocok menghadapi lawan tertentu.
Bagi kita, sudut pandang seperti ini membantu untuk menyorot masalah secara mendetail dengan pemikiran yang lebih tajam untuk mencapai target.
Jangan lupa, sebagai pemimpin Batista harus mampu mengubah visi menjadi kenyataan. Visi atau bisa kita sebut wawasan ke depan itu tentulah menjadi milik bersama dan diyakini dapat diwujudkan. Pemimpin yang mengumbar penglihatan imajinernya hanya akan menuntun pasukannya menerkam bayang-bayang.
Dalam skala berbeda, sepak bola Indonesia pun kini membutuhkan pemimpin yang mau melihat dari ketinggian berbeda dan memiliki visi ideal. Isi kampanye sang calon pemimpin kudu sesuai dengan kehendak insan sepak bola Indonesia.
Izinkan saya mewakili stakeholders sepak bola Tanah Air yang menyuarakan angan-angannya. Saat ini, saya tidak butuh kampanye Piala Dunia, baik sebagai tuan rumah atau peserta. Saya lebih suka pemimpin yang berjanji mengelola kompetisi secara baik disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhkan masyarakat, baik secara geografis maupun ekonomis.
Visi yang ideal bagi saya adalah pandangan menggerakkan kompetisi berjenjang. Sejak usia dini, anak-anak Indonesia diperkenalkan dengan proses serta arti perjuangan meraih kesuksesan. Mereka yang tidak menghargai proses akan sulit menghargai hasil, baik itu menang atau kalah.
Oh ya, proses menjadi pemimpin pun punya arti kemenangannya sendiri. Bukankah lebih nikmat menjadi pemimpin yang dipilih karena memperlihatkan sifat yang khas, seperti berpengetahuan luas, punya perencanaan, antisipatif, memiliki pandangan ke masa depan, hingga menghormati dan mendapat rasa hormat dari setiap anggotanya? #
No comments:
Post a Comment