Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Monday, October 3, 2011

Off-Season

 





Cesc Fabregas, Giovanni van Bronckhorst, dan Rio Ferdinand ke Indonesia. Ada misi sosial dan tentu saja komersial. Apa yang bisa kita ambil dari kehadiran mereka?
Karena masih aktif bermain, Cesc dan Rio tentu kini sedang dalam liburan mereka. Sebelum ke Indonesia, Cesc yang baru saja putus dari pacarnya, Carla Gracia, terlihat berlibur bersama keluarga dan, bisa jadi, gandengan barunya di Prancis. Sementara itu Rio menghabiskan waktu senggangnya di Siprus.
Belum jelas apakah Rio bakal langsung ke Indonesia dari Siprus atau tidak. Itu bukan masalah penting, pastinya. Yang terpenting adalah Rio akhirnya jadi juga berkunjung ke Indonesia setelah gagal ke sini dua tahun lalu bersama Manchester United.
Gio yang berdarah Maluku tentu patut kita acungi jempol. Selain karena bermain bagus dan memberikan pelajaran kepada para pemain kita pada sebuah laga persahabatan, dia pun membentuk sebuah yayasan yang diperuntukkan bagi kegiatan anak-anak di Tanah Air.
Dengan kondisi persepakbolaan nasional yang belum bernakhoda saat ini, kehadiran ketiga pemain ini bak hiburan. Memang mereka tidak bersama klub masing-masing, tetapi paling tidak sambutan hangat yang sudah dan bakal mereka dapatkan semoga akan mereka ceritakan kepada klub mereka bahwa Indonesia tetap sebuah negara yang layak dikunjungi, kelak.
Syukur-syukur mereka dipertontonkan ulang video ketika timnas berlaga di Piala AFF. Melihat betapa gilanya penonton kita bila sudah ingin timnas bermain di Gelora Bung Karno (GBK). Apalagi bila video yang mereka tonton itu adalah partai final kedua, di mana saya menyaksikan sendiri sejak satu jam sebelum pertandingan bangku penonton sudah tak tersisa.
Saya jadi ingat ketika manajer Arsenal, Arsene Wenger, berharap banyak Inggris kelak bisa menjadi juara Eropa atau dunia. Itu bukan karena ia melatih klub di sana, tetapi karena ia kerap terharu setiap kali The Three Lions bermain, satu stadion seperti ikut bernyanyi kala God Save The Queen diputar. Bahkan di Prancis pun ia tidak merasakan hal itu.
Bagi Wenger, antusiasme dan loyalitas publik Inggris, dan tentu saja liganya yang selalu semarak, layak mendapat imbalan sepadan berupa prestasi timnas. Bahkan, kegilaan itu tak pernah pudar walau John Terry dkk. selalu gagal membawa pulang piala dari sebuah turnamen besar.
Bagaimana kalau Wenger ada di GBK saat final kedua Piala AFF, di mana suara 100.000-an orang penonton yang serempak menyanyikan Indonesia Raya itu pasti akan membuatnya terkagumkagum? Lalu, prestasi apa kira-kira yang diharapkan Wenger dari tim Merah-Putih? Juara SEA Games dulu aja deh, Monsieur...
***
Off-season atau jeda antarmusim kompetisi bagi Cesc dan Rio, juga bagi mereka yang masih aktif, dihabiskan untuk liburan bersama keluarga. Atau mereka sambi dengan kewajiban komersial dengan sponsor. Ini jelas sesuatu hal yang wajar.
Bagi Indonesia, tentu ada perkembangan bagus di mana banyak sponsor kita mendukung klub atau individu ternama di dunia. Kita harus mengapresiasi hal tersebut. Yakinlah, hanya tinggal waktu yang akan membawa klub-klub top dunia tersebut berlaga di GBK.
Siapa tahu, kalau kita punya sosok yang luar biasa gila bola malah bisa menggelar pertandingan one-off, sekali main, seperti Supercoppa Italiana (Piala Super Italia). Cina bisa kok, kenapa kita tidak? Siapa tahu juga Indonesia kelak mampu menggelar Piala Dunia Klub FIFA seperti Uni Emirat Arab.
Mimpi? Enggak juga tuh. Menurut saya, justru ini jadi tantangan Ketua Umum PSSI mendatang. Sambil membenahi tetek-bengek sepak bola kita, tak ada salahnya bermimpi membawa dunia ke dalam genggaman. Prestasi kita benahi dari bawah ke atas, bottom-up, tapi promosi sepak bola dan negara dalam keadaan kondusif tentu bisa top-down. Maksudnya, kita buat event yang wah terlebih dahulu, baik hanya dalam bentuk laga persahabatan antarklub atau negara, turnamen mini, sampai kejuaraan resmi FIFA. Di sela menghelat event itu, kita belajar membenahi kompetisi di sini.
Swasta pasti harus dilibatkan. Saya yakin dengan kian semaraknya perusahaan Indonesia menjadi partner klub-klub top dunia, 3 dengan MU, kacang Dua Kelinci dengan Real Madrid, juga beberapa individu seperti Biskuat dan Fabregas ini, hal itu bisa terwujud. Asal, semua dilakukan dengan transparan dan semangat untuk kebaikan sepak bola secara khusus dan negeri ini secara umum.
Satu lagi modal yang saya yakini ini bakal berhasil adalah antusiasme penonton. Jangan sekali-kali remehkan potensi penonton kita bila tahu akan ada klub-klub besar yang datang ke GBK atau stadion-stadion lain di luar Jakarta. Apalagi bila sebuah turnamen mini benar-benar terwujud.
Mungkin banyak yang tidak sadar ketika cabang yang punya prestise tinggi, golf, pada sebuah kejuaraan di Indonesia pernah melahirkan pegolf nomor satu dunia dan itu terjadi belum lama, bulan April 2011. Pegolf Inggris, Lee Westwood, dinobatkan jadi pemain ranking 1 dunia setelah menjuarai Indonesian Masters. Karena Westwood orang Inggris, pemberitaan tentang keberhasilannya di Jakarta itu pun jadi lebih mendunia. Kita tahu, untuk urusan gembar-gembor, media Inggris memang nomor satu.
Itu bukti lagi bahwa kalau kita mau dan semua pihak saling mendukung, Indonesia akan jadi tujuan utama offseason. Bisikin ke Fabregas, ya...

No comments: