Skor pertandingan menunjukkan hasil kinerja. Dua kali tim nasional sepak bola kita berlaga di kualifikasi Piala Dunia zona Asia Grup E berakhir dengan tangan hampa.
Baru sampai di situlah gebrakan para pengurus baru PSSI di bawah komando Djohar Arifin Husin. Pada pertandingan pertama melawan Iran, timnas pasang target 'mencuri' satu poin di Teheran. Faktanya, gawang Markus Horison malah jebol tiga kali.
Main di kandang sendiri di Senayan, dan disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, wajar dong kalau PSSI mematok meraih tiga poin. Apa boleh buat, ternyata kembali jaring di bawah lindungan Markus dua kali bergetar.
Total jenderal, dari dua penampilan awal, jaring tim Indonesia sudah koyak lima kali. Sedihnya, tidak satu pun gol dapat diciptakan ke gawang lawan. Striker mandul karena kurang mendapat dukungan dari tengah. Barisan pertahanan pun tampak rapuh sehingga mudah dikecoh lawan.
Kondisi tidak sehat ini diperparah lagi oleh ulah penonton yang suka meneror pemain lawan dengan cara tidak sopan. Permainan kembang api dan petasan bisa jadi sekadar ekspresi jiwa penonton, tapi hal itu diharamkan aturan yang dibuat asosiasi sepak bola Asia, AFC.
Lihatlah, wasit Lee Min Hu terpaksa menghentikan pertandingan karena menilai situasi tak terkendali lagi. Akibat ulah penonton ini, bisa jadi AFC akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia. Citra kita memang tercoreng lagi oleh hal-hal yang sebenarnya sepele.
Memang agak aneh juga sih. Para penonton di bagian VIP justru diperiksa ketat sehingga air mineral dan geretan pun dilarang. Sebaliknya penonton di tribun atas dan kelas ekonomi bebas membawa bendabenda terlarang seperti petasan dan kembang api. Standar operasional seperti apa ini, ya?
***
Di mana titik lemah timnas kita sehingga menderita kalah? Perlukah suara koor penonton yang menuntut pergantian pelatih mendapat perhatian pengurus PSSI? Adakah sesuatu yang tak beres dalam penerapan strategi permainan yang diterapkan Wim Rijsbergen asal Belanda itu?Materi pemain yang dimiliki Wim tidak jauh beda dari koleksi pelatih sebelumnya, Alfred Riedl. Alasan itu pula yang dilontarkan Wim seolah mencari aman dengan mengatakan bahwa pemain yang ada sekarang bukan pilihannya. Waduh...
Kesempatan Wim untuk membentuk timnas sesuai dengan pakem dan standarnya memang tidak memadai. Maklum, tugas mulia sebagai penanggung jawab teknis diterima secara mendadak. Kurang dari sepuluh hari, timnas bertanding melawan Turkmenistan.
Bagaimana Indonesia bisa menyingkirkan Turkmenistan? Rahasianya ada di tangan Rahmad Darmawan (RD). Pelatih yang sukses menangani Persipura dan Sriwijaya inilah yang memegang kendali dan memasang strategi, walau Wim secara resmi sebagai pelatih kepala.
Dua pertandingan resmi Indonesia vs Iran dan melawan Bahrain, RD sudah di luar kandang. Mantan pemain Persija itu memegang tanggung jawab sebagai pelatih timnas U-23 persiapan SEA Games Palembang, November mendatang, dengan target medali emas.
Bisa jadi sesungguhnya Wim memiliki kapasitas memadai, tapi ia hadir pada waktu yang tidak tepat. Atau bisa juga mantan pemain Belanda di Piala Dunia 1974 dan 1978 itu memang tidak cocok menangani tim nasional Indonesia.
Terjadinya pergantian mendadak Riedl, yang telah menunjukkan kinerja bagus di Piala AFF, sangat disayangkan. Ego dan arogansi pengurus baru PSSI merupakan tindakan blunder. Kasus pemecatan ini terancam diadukan pelatih asal Austria itu ke badan sepak bola dunia, FIFA.
***
Sikap optimistis harus dipelihara. Harapan untuk mengejar tiket ke Piala Dunia Brasil 2014 secara matematis memang terbuka. Indonesia masih akan memainkan empat kali lagi pertandingan.Hanya, kita harus berpandangan realistis. Tidak boleh lagi memberikan buaian hampa kepada publik. Secara kualitas teknis tim, materi pemain dan strategi pelatih apa yang masih menyimpan api dan spirit besar untuk menciptakan keajaiban memenangi sisa empat pertandingan lagi?
Katakan sejujurnya. Oke, kalau memang masih ada cahaya di ujung terowongan, kira-kira langkah apa yang akan ditempuh membangun sebuah kekuatan besar di tengah runtuhnya sebuah keyakinan yang kini melanda tim.
Kita beruntung, penonton sebenarnya sudah semakin dewasa dengan tidak lagi bertindak anarkistis. Namun, melempar benda-benda ke pemain lawan dan membuat keributan, bukankah ini luapan kekecewaan?
Wim sebagai pelatih harus segera memaparkan tindakan dan langkah ke depan. Apakah mungkin melakukan perombakan tim secara besar-besaran. Apakah cukup punya waktu untuk membangun kerja sama tim? Ingat, 11 Oktober, kita akan menjamu Qatar di Senayan.
Tidak boleh putus asa, itu sudah pasti. Bahwa timnas kita sekarang lebih buruk dari sebelumnya, itu fakta. Buktinya, timnas kita melawan Bahrain pada Piala Asia 2007 di Jakarta, Indonesia, mampu membukukan kemenangan 2-1. Kini malah kalah 0-2.
Membangun tim nasional yang kuat dan tangguh itu tidak mudah. Butuh waktu dan biaya besar serta pemikiran berwawasan jauh ke depan. Tidak berlebihan kalau kita sebut bahwa harapan berlaga di Piala Dunia 2014 adalah impian yang tak mungkin menjadi kenyataan.
So, apa tidak lebih baik PSSI berpikir lebih jernih untuk memprioritaskan pembangunan tim U-23? Di depan mata sudah menanti proyek besar berupa pemuasan dahaga medali emas SEA Games setelah 1991.
Mari kita menggantung impian setinggi langit, tapi tetap berpijak di bumi.
No comments:
Post a Comment