Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Tuesday, October 4, 2011

Loyalitas versi Soen Joe

 





Bila ada kesempatan untuk tampil di Piala Dunia, apakah peluang itu akan Anda lewatkan begitu saja? Kalau sebagai anggota masyarakat minoritas rumah Anda dirampok sampai tiga kali, apakah masih bangga mengaku anak Indonesia dan berperan dalam sejarah sepak bola bangsa ini?
Saya mengajak Anda mundur ke era perjuangan bangsa ini untuk merdeka, ketika peperangan merusak semua impian untuk hidup normal. Bahkan, perang meng­haramkan anak-anak untuk menggantungkan cita-citanya setinggi langit.

Sebagai pelajar dengan bakat sepak bola yang istimewa, Liem Soen Joe mendapat perhatian tersendiri dari seorang warga Belanda yang menjadi Ketua Perkumpulan Sepak Bola pelajar Belanda (HBS) di Surabaya. Selain belajar di fakultas kedokteran gigi Stovit Surabaya (Universitas Airlangga), Soen Joe yang menginap di rumah orang Belanda itu wajib membela HBS dalam setiap pertandingan.

Stigma sebagai pengkhianat kaum Tionghoa adalah rantai di kaki Soen Joe setiap melangkah. Bila bertanding melawan Tionghoa FC, ia menjadi sasaran permainan kasar.

Ketika itu, perseteruan PSSI dengan NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie), nama baru untuk NIVB (Nederlandsch Indcie Voetbal Bond), semakin meruncing. Soen Joe dihadapkan pada pilihan pelik.

Karena Jepang dan Korea meng­undurkan diri dari keikut­sertaan Piala Jules Rimet III 1938 (Piala Dunia), Hindia Belanda dengan NIVU sebagai federasi sepak­bolanya mendapatkan kesempatan sebagai pengganti. Ketika itulah Soen Joe, yang berusia 22 tahun, ditawari bermain membela Hindia Belanda karena talenta baik miliknya.

Apa jawabnya Soen Joe? "Maaf, saya tidak bisa. Saya harus menyelesaikan kuliah tepat waktu."

Soen Joe bukan berasal dari keluarga kaya, dan ia tahu besarnya pengorbanan kedua orang tua yang tinggal di Kebumen untuk membiayainya agar menjadi dokter gigi. Pada waktu itu, melakukan perjalanan ke Prancis tidak bisa senyaman penerbangan saat ini.

Sisi baik dari penolakan Soen Joe ini adalah perubahan sikap dari para pemain Tionghoa FC. Stigma pengkhianat itu luntur.
Di lain kisah, Soen Joe yang sudah menikah, merasakan bagaimana pahitnya kehidupan ketika lingkungan tak bisa membedakan mana kawan dan lawan. Kekacauan akibat kehadiran Belanda dan pasukan Sekutu menghadirkan kelaparan di mana-mana.
Di Kebumen, Soen Joe harus merasakan menjadi korban perampokan. Ketika ia memutuskan pindah ke Garut, kehidupan yang mulai mapan sebagai dokter gigi, menjadikan Soen Joe sasaran perampok.

Merasa tak lagi bisa hidup nyaman, bersama istri dan kedua anaknya, Soen Joe memutuskan kembali ke Kebumen. Eh, di kampung halamannya lagi-lagi ia harus kehilangan sejumlah barang akibat ulah penggarong.

Kisah ini hanya sepenggal cerita dari seorang anak bangsa yang kemudian dikenal dengan nama Endang Witarsa. Dalam buku "Dokter Bola Indonesia", saya bisa melihat arti loyalitas versi seorang pelatih yang rela meninggalkan profesi dokter gigi demi sepak bola.
Loyalitas terhadap sepak bola. Sikap loyal Soen Joe ini kemudian membawa saya kepada sosok Carlos Tevez. Dengan alas­an apa Tevez menolak perintah Roberto Mancini agar turun membela Manchester City yang saat itu kedodoran di markas Bayern Muenchen? Panggung Liga Champion pada 27 Septem­ber 2011 memberi cerita sedih.

Bisakah Anda membayangkan seseorang yang mendapat bayaran per minggu sebesar 2,7 miliar rupiah menolak perintah atasannya untuk melakukan sesuatu yang menjadi keahlian dan penyebab ia dibayar mahal?

Ya, Man. City membayar Tevez sebesar 200 ribu pound setiap pekan agar membawa klub tersebut keluar dari bayang-bayang kesuksesan tetangga, Manchester United.

Perkembangan kasus ini memang akan terus menjadi bumbu drama yang sedap bagi insan pers. Termasuk ucapan sejumlah pemain City yang mengaku tak mendengar ada ucapan penolakan Tevez akibat suara bising di stadion milik Muenchen itu.
Atau reaksi Sir Alex Ferguson, rival Mancini. Begini katanya, "Saya pikir Roberto Mancini telah menunjukkan kekuatan karakter­nya. Kita semua mengalami kesulitan masing-masing dan Anda mengatasinya sebaik mungkin. Pengalaman saya mengata­kan, manajemen yang kuat sangat dibutuhkan dan di klub sepak bola tak ada yang lebih penting daripada manajer."

Apakah Sir Alex menyiramkan bensin ke bara api di klub yang perkembangan finansialnya dinilai semakin mengancam keharuman nama United?

Ketika Tevez memilih sepak bola sebagai jalan hidup, bagai­mana mungkin ia menolak membantu rekan-rekannya yang berada di ambang kekalahan?

Tevez boleh saja mengaku sudah tidak kerasan di Man. City, klub yang membuatnya jauh dari kemiskinan.

Striker Argentina itu mungkin tak respek pada Mancini, pelatih yang diharapkan dapat membawa City mengejar kesuksesan Sir Alex di kubu rival. Tapi ia tak seharusnya mengingkari kecinta­an, loyalitas kepada profesinya sebagai pemain sepak bola.
Pemain sepak bola seperti apa yang menolak merasakan perjuangan di lapangan? Kesetia­an kepada profesi menuntut perilaku dan tanggung jawab, tidak hanya ingin menikmati kemewahan dari harapan atasan dan si pemberi upah. #

No comments: