Garra charrua! Tak usah miris bila Anda merasa asing kata ini. Garra charrua merupakan keistimewaan yang dimiliki masyarakat Uruguay, tidak hanya pemain sepak bola.
Seorang penulis bernama Astolfo Cagnacci menerjemahkan garra charrua dalam terminologi sepak bola sebagai naluri menjaga kelangsungan hidup di lapangan sepak bola.
Artinya, ada kemauan besar untuk bertarung menjaga peluang dan meraih kemenangan. Istilah garra charrua sebenarnya sudah lama hilang sejak Uruguay mengejutkan dunia di Olimpiade 1924 di Paris, Prancis.
Datang dengan status tim tak terkenal dan dipandang sebelah mata oleh tim-tim raksasa sepak bola dunia, Uruguay mampu menjadi juara di penampilan perdana mereka.
Ada kejadian menarik sebelum cabang sepak bola dimainkan. Yugoslavia, sebagai lawan pertama Uruguay, mengirimkan mata-matanya untuk melihat sebaik apa pendatang baru itu memainkan bola.
Sadar lawan mengamati mereka, para pemain Uruguay memainkan sandiwara. Tak satu pun gol yang mereka ciptakan dalam latihan. Bola yang sudah di depan gawang ditendang ke awan atau sepatu para pemain "memakan" rumput. Para pemain kerap bertabrakan satu sama lain. Sungguh latihan yang kacau.
Mata-mata Yugoslavia pulang dengan sebuah informasi bahwa Uruguay adalah santapan empuk, "a piece of cake."
Anda tahu berapa skor akhir duel yang berlangsung pada 26 Mei 1924 di Stade Olympique, Colombes, Prancis? Yugoslavia dihantam 7-0! Tuan rumah Prancis disikat 5-1 di babak perempat final. Belanda tumbang 1-2 di semifinal dan Swiss kalah 0-3 di partai final.
Enam tahun kemudian, Uruguay menjadi juara Piala Dunia di edisi perdana. Olimpiade 1928 pun masih menjadi milik Uruguay.
Setelah terakhir kali mencapai semifinal Piala Dunia 1970, istilah garra charrua kembali muncul di Piala Dunia 2010. Pemicunya adalah laga melawan Korea Selatan di babak 16 besar PD 2010 yang dimenangkan Uruguay 2-1. Semangat garra charrua muncul. Keyakinan terhadap kemampuan dan daya juang pria-pria Uruguay itu lahir kembali.
Uruguay kembali mencapai babak perempat final Piala Dunia untuk pertama kali dalam 40 tahun.
Kepada Reuters, striker Edinson Cavani mengaku berhasil menghidupkan kembali karakter manusia Uruguay yang penuh hasrat dan tekad untuk menjadi yang terbaik.
"Kami tak membangun istana di udara. Jadi, saya tak melihat kenapa kami harus berhenti di sini," ujar pelatih Oscar Tabarez ketika itu.
Sang pelatih pun membawa Uruguay ke semifinal dengan mengalahkan Ghana melalui duel adu penalti. Namun langkah La Celeste Olimpica alias Si Biru Langit harus terhenti oleh Belanda di semifinal. Jerman mengalahkan Uruguay di perebutan tempat ketiga.
Namun menarik menyimak apa yang diucapkan pelatih Tabarez sebelum membawa Diego Forlan dkk. bertarung di Afrika Selatan. Begini katanya, "Hei, orang-orang di Uruguay punya harapan besar terhadap kalian. Mereka memiliki mimpi dan kewajiban kita untuk mengantarkan mereka meraih mimpi itu."
Sepak Bola Indonesia
Tabarez memberi sebuah penegasan yang layak disimak oleh pelatih sepak bola di Tanah Air, termasuk komandan baru tim nasional bernama Wim Rijsbergen. "Alasan utama agar pemain berjuang habis-habisan adalah memberikan kebahagiaan sehingga masyarakat memiliki sesuatu untuk dirayakan."
Di Afrika Selatan, para pemain Uruguay mengaku kondisi tim sangat solid dan harmonis. “This team sticks together. We are very, very united," kata Forlan.
Memiliki sesuatu untuk dirayakan. Saya ingin menggarisbawahi kalimat ini. Dalam sebuah pembicaraan santai beberapa waktu lalu dengan Ponaryo Astaman, mantan gelandang dan kapten tim nasional Indonesia itu memberikan anggukan atas penilaian saya.
Tanpa sebuah keraguan, saya mengatakan kualitas permainan Tim Garuda di Piala AFF 2010 masih ada di bawah tim yang tampil di Piala Asia 2007.
Ukuran lawan yang kita hadapi bisa dijadikan alasan. Bagaimana Anda membandingkan kualitas tim Korea Selatan, Arab Saudi, dan Bahrain lawan kita di Piala Asia 2007 dengan Malaysia, Thailand, Filipina, dan Laos yang dihadapi di Piala AFF 2010?
Apa sesungguhnya yang kita rayakan melihat antusiasme masyarakat yang begitu besar? Masuk final Piala AFF yang dulu dikenal sebagai Piala Tiger bukan hal pertama bagi Tim Garuda. Kehadiran pemain naturalisasi? Hmm, silakan menilai sendiri.
Tapi hal positif yang dimunculkan Tim Garuda di Piala AFF tahun lalu adalah euforia kecintaan terhadap tim nasional. Bahkan rekan-rekan infotainmen ikut menjadikan timnas sebagai jualan.
Kebanggaan mengenakan jersey dan segala atribut mewakili Tim Merah-Putih sesungguhnya merupakan langkah baik membangun sebuah tim untuk memberikan kebahagiaan kepada masyarakat Indonesia yang haus prestasi.
Semoga saya salah, tetapi mengganti pelatih timnas ketika pertempuran sudah di depan mata, dengan alasan yang bagi saya "lucu", bukanlah cara menjaga euforia positif yang muncul di Piala AFF lalu.
Dalam pengamatan saya, kemampuan adaptasi pemain kita dengan pelatih asing tidak bisa dibilang bagus. Apalagi bara-bara api di tubuh federasi sepak bola kita belum padam. Tapi, izinkan saya berharap garra charrua yang telah membawa Uruguay ke final Copa America 2011 juga dimiliki pemain nasional kita. Semoga!
No comments:
Post a Comment