FC Barcelona dan Manchester United. FC Porto dan SC Braga. Empat klub ini akan menjadi pelaku puncak kejuaraan antarklub Eropa musim 2010/11.
Ada yang merasa aneh dengan pertarungan yang akan mentas pada 18 Mei dan 28 Mei nanti? Wajar saja bila Anda meragukan nilai jual duel sesama tim Portugal di final Liga Europa.
Rabu, 18 Mei 2011, atmosfir Stadion Aviva di Kota Dublin, Irlandia, diramal tak akan semegah Stadion Wembley, London, pada 28 Mei. Tingkat drama yang dimunculkan pun diyakini berbeda.
Singkat kata, level kejuaraan dua kompetisi Benua Biru itu masih sulit didekatkan sesuai harapan Michel Platini, sosok yang kini duduk di kursi utama UEFA.
Tak usah jauh-jauh melihat perbedaan itu. UEFA hanya memberikan hadiah juara kepada pemenang di Aviva Stadium sebesar 3 juta euro. Bila dirupiahkan, perjuangan FC Porto dan SC Braga sepanjang musim dihargai 37,3 miliar rupiah. Tentu masih ada bonus-bonus di babak sebelumnya, seperti ongkos partisipasi di fase grup sebesar 640 ribu euro dan pembagian hak siar televisi.
Tapi coba lihat berapa UEFA memberi ongkos partisipasi peserta Liga Champion yang berhasil mencapai fase grup. Setiap peserta mengantongi 3,9 juta euro!
Mari lihat berapa banyak yang dimenangkan Atletico Madrid ketika menjuarai UEFA Europa League 2009/10. Kemenangan atas Fulham di final mengisi kas Atleti total sebanyak 6.358.740 euro.
Lalu, berapa banyak yang diraih Internazionale usai menundukkan Bayern Muenchen di final Liga Champion musim lalu? Total, klub Italia itu mengantongi 48.759.00 euro.
Adilkah? Hm, sulit bicara adil ketika hukum ekonomi sudah berbicara. Bukankah panggung para juara liga lebih memiliki nilai jual? Piala Champion, begitu dulu kejuaraan ini disebut, adalah medan laga klub-klub terbaik di Eropa yang menyudahi kompetisi sebagai peringkat terbaik.
Namun untuk menambah keuntungannya, UEFA menyertakan sejumlah klub di bawah sang juara dengan aturan yang mereka tetapkan untuk membagi kuota tiap negara.
Baik, mari kita tinggalkan situasi pelik antara Liga Champion dan Liga Europa yang coba terus diatasi UEFA. Saya tertarik menilik betapa rasa percaya dalam sepak bola itu punya kekuatan sungguh besar.
Siapa yang menduga Sir Alex Ferguson akan menyimpan sebagian kekuatan utamanya ketika menjamu Schalke? Memang di semifinal I Liga Champion timnya unggul 2-0 di Jerman, namun menjamu lawan dengan setengah kekuatan di panggung paling elite Eropa?
Tapi, pelatih yang sudah berada di Old Trafford sejak November 1986 itu begitu percaya bahwa Chris Smalling, Jonny Evans, hingga Anderson akan menjaga tugas yang ia berikan.
Hasilnya luar biasa. Rabu, 4 Mei 2011, akan mencatatkan bagaimana keyakinan Sir Alex membuat pemain-pemain Man. United, yang pandangannya lebih mengarah kepada duel menjamu Chelsea, Minggu (8/5), tampil solid. Schalke tak berdaya dan menyerah 1-4 di Theatre of Dreams.
Achieving start with believing. Kalimat ini hadir dalam ingatan saya menyaksikan semifinal Liga Champion dan Liga Europa musim ini. Sir Alex memulai keberhasilannya dengan percaya kepada para pemain United.
Kekuatan atas rasa percaya, akan sesuatu atau kepada orang lain, saya rasakan setiap menyaksikan FC Barcelona berlaga. Usai era Frank Rijkkaard, hal itu menguat di rezim Josep "Pep" Guardiola.
Lihatlah bagaimana tiki-taka yang diperagakan pemain Barca menunjukkan betapa mereka percaya terhadap kemampuan rekan setim. Walau Lionel Messi dibayang-bayangi lawan, Xavi Hernandez tak ragu memberikan bola kepada rekannya itu. Ia yakin, Messi bertanggung jawab mengamankan bola untuk kebaikan tim.
Seluruh pemain Barcelona juga percaya pada Pep sebagai peracik strategi. Walau saya meragukan keputusan Pep memainkan Lionel Messi nyaris tanpa henti sepanjang musim ini, penyerang mungil dari Argentina itu tak membuat pelatihnya kecewa.
Okelah, Pep punya nama besar ketika masih aktif bermain. Ia dikenal sebagai salah satu pemain yang disukai Johan Cruyff, tokoh besar di FCB. Lalu, bagaimana dengan Andre Villas-Boas?
Ingin sekali rasanya mengetahui apa yang membuat para pemain FC Porto bermain sangat baik musim ini sejak Villas-Boas menggantikan peran Jesualdo Ferreira di kursi kepelatihan, Juni 2010.
Villas-Boas tak punya track record sebagai pemain sepak bola. Ia menangani klub raksasa Portugal, FC Porto, berbekal minim pengalaman. Tapi sebagai pelatih termuda di Portugal (33 tahun), ia membawa Porto berpeluang meraih treble di tahun pertama bertugas.
Setelah menjuarai Liga Portugal sebelum kompetisi musim ini rampung, Porto akan tampil di final Liga Europa melawan "saudaranya" SC Braga, pada 18 Mei. Empat hari kemudian, klub dengan julukan Dragoes itu akan tampil di final Piala Portugal menghadapi Vitoria de Guimaraes.
Saya yakin, kepercayaan yang diberikan manajemen Porto berjalan seiring dengan keyakinan para pemain terhadap Villas-Boas, pelatih yang menemani Jose Mourinho di FC Porto, Chelsea, dan Internazionale.
Lalu, pertanyaan sampai ke kita. Siapakah yang kita percaya dapat mengobati penyakit sepak bola di Tanah Air? Rasanya krisis kepercayaan menjadi penyakit yang lebih dahulu harus kita sembuhkan. #
No comments:
Post a Comment