Jose Mourinho dan Kelompok 78. Inilah dua nama yang nyaris menyita perhatian saya dalam beberapa hari belakangan. Sekali lagi, sepak bola melalui kedua nama ini, mengajarkan banyak pelajaran kehidupan kepada kita.
Benarkah Jose Mourinho sulit atau tidak bisa menerima kekalahan? Ketika ia sadar timnya di ambang kekalahan dan sulit bangkit menyaingi penampilan lawan, Mou disebut-sebut akan mencari cara agar ia dan timnya terlihat berada di pihak yang dirugikan oleh elemen pertandingan, terutama wasit.
Itukah yang terlihat ketika Madrid menyerah 0-2 dari Barcelona di semifinal I Liga Champion 2010/11 yang berlangsung di Santiago Bernabeu, Rabu (27/5)?
Setelah Mou memperbaiki penampilan Madrid yang kalah 0-5 di Camp Nou, untuk seri 1-1 di Bernabeu, dan menang 1-0 di Mestalla dalam laga el clasico, kekalahan 0-2 di semifinal LC di hadapan pendukung sendiri jelas meruntuhkan grafik menanjak El Real.
Pendukung Real Madrid di manapun pasti sulit menerima hasil menyesakkan itu ketika Mou diyakini sebagai harapan mengembalikan kejayaan Madrid.
William Arthur Ward, salah satu penulis esei dan pembicara hebat dari Amerika pernah berkata, "Orang yang sudah matang dan fleksibel adalah mereka yang bisa menanggung kekalahan dengan bermartabat, menerima kritikan dengan tenang, dan menerima kehormatan dengan rendah hati."
Bagi sebagian orang, Mourinho ditempatkan ke dalam kelompok yang berlawanan dengan karakter di atas. Dalam beberapa pemberitaan di media luar negeri, Mou malah disebut sebagai perusak martabat Madrid akibat polahnya.
Saya menerima cukup banyak pertanyaan tentang sikap dan karakter Mourinho dari penggemar sepak bola. Pembaca, saya bukan pembenci atau pendukung Mou. Saya hanya mencoba melihatnya dari sisi lain.
Dengan pengeluaran anggaran gaji pemain rata-rata sebesar 7,4 juta dolar AS per tahun, sekitar 63, 4 miliar rupiah, tentu Mourinho yang menerima upah Rp 127 miliar tiap tahunnya akan kewalahan bila dihadapkan pada pertanyaan manajemen Real Madrid, "Berapa gelar juara yang Anda berikan kepada kami?"
Kubu Madrid tak akan berkata, "Terima kasih, Mou, telah membuat Madrid bermain indah dan menarik walau tanpa gelar juara."
Walau ada ungkapan positif yang mengatakan, "good losers earn more respect than bad winners," tapi dalam curriculum vitae pelatih hanya ada kolom untuk mengisi prestasi dan jumlah gelar yang diraih. Tak ada ruang bercerita tentang kekalahan walau harus menyerah dengan terhormat.
Mungkinkah hal ini yang membuat seorang Mourinho begitu bernafsu kepada kemenangan? Kritik Alfredo Di Stefano tentang Madrid yang kehilangan jati diri dan kewibawaannya sudah dijawab dengan trofi Copa del Rey 2011 mengatasi Barcelona. Tapi gelar level kedua dalam kompetisi domestik bukan tujuan Mou dan anggaran raksasa Madrid.
Menyadari tingginya tuntutan para pemilik klub dan penggemarnya, FIFA sebagai empunya aturan sepak bola, mencoba memajukan unsur fair play dalam berkompetisi, yakni bermain dengan jujur.
Bila kemenangan Anda raih dengan tidak adil dan tak jujur, semua itu menjadi tanpa nilai. Melakukan kecurangan sangat mudah, tapi tak akan membawa kenikmatan. Bermain jujur membutuhkan keberanian dan karakter.
FIFA meyakini, semua jalan ini akan membawa Anda pada kepuasaan bernilai tinggi. Fair play selalu memiliki penghargaan, tak peduli Anda menang atau kalah.
Well, benarkah sepak bola saat ini hanyalah sebuah permainan? Akankah Barcelona mampu memberi gaji rata-rata pemainnya sebesar 67,7 miliar rupiah per orang setiap tahun bila hanya tampil menghibur, mengundang decak kagum, tapi tanpa prestasi?
Angka-angka gaji pemain yang muncul dari Barcelona dan Real Madrid menjadikan sepak bola sebagai sebuah permainan yang mahal, baik dalam persiapan maupun dampaknya. Oleh sebagian pihak, kemenangan menjadi segalanya.
Dalam kehidupan, fair play berarti menaruh rasa hormat. Tanpa lawan, sepak bola bukanlah sebuah permainan. Lawan Anda memiliki hak yang sama, termasuk hak untuk dihormati.
Setiap permainan memiliki aturan. Tanpanya, kita hanya akan melihat kekacauan di lapangan.
Seluruh aturan itu diracik guna membuat sepak bola sebagai olah raga yang menyenangkan untuk dimainkan dan ditonton.
Sayang, tontonan sepak bola di Tanah Air belakangan lebih dikuasai keributan di tubuh federasi sepak bola kita. Setelah Nurdin Halid turun dari kursi Ketua PSSI, kekacauan seolah membenarkah ucapan seorang rekan. "Mereka hanya tahu satu niat, yakni menjatuhkan rezim Nurdin. Setelah itu, mereka tak punya kesamaan sikap. Semua berebut kekuasaan."
Saya mencoba membantah keyakinan sang rekan. Benarkah? Lalu dia menjawab, "Apakah FIFA itu buta terhadap aturan yang mereka buat sendiri? Kini, sebagian orang seolah menantang FIFA karena tujuan tertentu, bukan menyelamatkan sepak bola kita yang berjalan dengan kekacauan."
Ah, saya tak mau pembicaraan ini seolah berjalan menuju quicksand, pasir isap bernama PSSI yang menyedot energi dan perhatian luar biasa bangsa ini.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, seperti apakah kita ingin dikenang? Seseorang yang memburu kemenangan dengan memakai segala cara, atau menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan yang menempatkan kita sebagai sosok istimewa di hadapan orang lain? #
No comments:
Post a Comment