Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Thursday, September 29, 2011

Presiden dan Reputasi Olah Raga


Soekarno, Presiden Republik Indonesia 1945-1966. Di bawah pemerintahan presiden pertama negeri inilah dibangun kompleks olah raga paling oke. Gelanggang Olah Raga (Gelora) Senayan dengan berbagai fasilitas modern kala itu, belum tergantikan hingga sekarang.
Orator ulung yang mampu menghipnotis para pendengarnya itu memiliki ucapan pembangkit semangat yang amat terkenal. Menurutnya, olah raga adalah bagian yang tak terpisahkan dari nation and character building.
Soeharto, Presiden RI 1966-1998. Ia menyadari bahwa olah raga merupakan sarana penting guna meningkatkan produktivitas masyarakat. Slogan yang dilontarkan pada 9 September 1983 itu sangat bergema: Memasyarakatkan Olah Raga dan Mengolahragakan Masyarakat.
Pada masa pemerintahan Soeharto, reputasi atlet Indonesia sangat dihormati di kawasan Asia Tenggara. Sejak ambil bagian ke Southeast Asian Games (SEAG) 1977, Indonesia menjadi yang teratas.
Dari 11 kali berpartisipasi ke SEAG 1977-1997, Indonesia 9 kali menjadi pengumpul medali emas terbanyak. Hanya dua kali posisi itu direbut Thailand, itu pun tatkala Negeri Gajah Putih itu menjadi tuan rumah pada 1985 dan 1995.
Baharuddin Jusuf Habibie, Presiden RI 1998-1999. Presiden tersingkat Indonesia ini tidak terlalu banyak menyentuh bidang olah raga. Dapat dimaklumi, sebab ia menjabat pada masa transisi pergolakan politik. Akibatnya, dari nomor satu di SEAG, Indonesia terlempar ke posisi ketiga. Abdurrahman Wahid, Presiden RI 1999-2001. Tindakannya dinilai sangat kontroversial tatkala membekukan jabatan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga. Pada masa ini tren prestasi atlet Indonesia memasuki fase kemerosotan. Kurang dari dua tahun pemerintahan Gus Dur, pas SEAG tidak berlangsung.
Megawati Soekarnoputri, Presiden RI 2001-2004. Putri Soekarno ini melanjutkan kebijakan politik presiden sebelumnya dengan tetap menutup pintu jabatan Menpora. Olah raga hanya ditangani setingkat Direktur Jenderal di bawah payung Departemen Pendidikan Nasional.
Berusaha untuk dekat dengan pembinaan olah raga, tapi tidak memberi hasil memuaskan. Masa pemerintahan tiga tahun Ketua Umum PDIP ini, dua kali Indonesia berpartisipasi di SEAG. Posisi kita tidak beranjak dari urutan ketiga.
Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI 2004-sekarang. Dibukanya kembali posisi Menpora sempat membawa gairah baru dan optimisme. Adhyaksa Dault diberi tanggung jawab menjadi Menpora dan berusaha bergerak cepat mengatasi ketertinggalan.
Apes, pada SEAG 2005 Filipina, bukannya mengembalikan status Raja Asia Tenggara, tapi malah terjun bebas. Hingga akhir lomba di Manila, peringkat Indonesia tercatat tersendat di urutan kelima. SEAG 2007 Thailand, naik ke urutan keempat. SEAG 2009 Laos, naik lagi ke tempat ketiga.
Di balik situasi yang belum pulih, tetap saja ada hal positif. Menpora Adhyaksa berhasil menggolkan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) sebagai pijakan hukum olah raga di bumi Nusantara.
***
Kesempatan menegakkan batang terendam terbentang di depan mata. Pada SEAG 2011 Indonesia menjadi tuan rumah. Tidak ada keraguan. Inilah titik balik mengembalikan harga diri bangsa Indonesia menjadi nomor satu di Asia Tenggara.
Menpora Andi Mallarangeng lincah mengejar dukungan dana APBN dari pemerintah. Angka triliun rupiah untuk pembangunan dan pelaksanaan pun segera disetujui DPR. Segalanya tampak indah dan penuh semangat dari berbagai lapisan.
Untuk pertama kalinya SEAG tidak dipusatkan di Jakarta. Palembang di bawah Gubernur Alex Noerdin dianggap paling siap. Maklum, Sumatra Selatan telah berpengalaman karena baru usai menyelenggarakan PON.
Dukungan serius pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat merupakan modal penting. Karena itu, wajar bila terdengar ambisi menciptakan SEAG di Palembang, 11-22 November 2011 menjadi pesta olah raga Asia Tenggara terbaik, terbesar, terbersih sehingga akan dikenang sepanjang sejarah.
Pembaca, marah dan kesal mendengar ada ahli politik Australia mengatakan Indonesia adalah negara kleptokrasi. Pikirpikir, opini internasional itu berdasarkan fakta. Kenyataannya, dana pembangunan untuk mengangkat martabat negeri ini dikorupsi.
Akibat tindakan terkutuk itu, pembangunan berbagai sarana dan prasarana terkendala. Persiapan peningkatan prestasi atlet dengan melakukan uji coba ke berbagai daerah dan negara terganggu. Bagaimana prestasi meningkat dan bangga bila kondisi seperti ini terus melilit?
Jauh lebih menyedihkan adalah citra Indonesia sebagai negeri terkorup di dunia semakin melekat. Predikat buruk dan memalukan akibat perbuatan dan perangai jahat beberapa gelintir orang.
M. Nazaruddin adalah tokoh utama pelakon korupsi. Setelah ditangkap dari pelariannya di Kolombia, ia menyebut banyak nama orang penting dan politikus negeri ini terlibat. Apa tindakan aparat negara untuk membersihkan diri?
Masih adakah yang mampu menegakkan keadilan secara hukum? Atau seperti yang sudah-sudah, diselesaikan secara musyawarah dan keputusan politis? Ah, jenuh juga mendengarnya.
Mari renungkan ucapan Presiden AS, John F. Kennedy: "In politics forgive, but never forget."
ian@bolanews.com
(Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA No. 2.250terbit 22 September 2011)

No comments: