Sihar Sitorus. Anak muda berdarah Batak ini memiliki obsesi yang luar biasa. Setiap hari hatinya gundah dan terus bergolak. Ia ingin segera membangun sepak bola Indonesia modern dan berprestasi internasional.
Panggilan tanggung jawab itulah yang mendorongnya terlibat secara langsung. Ilmu bisnis yang dipetiknya di Universitas Manchester ingin diterapkan untuk mengembangkan klub sepak bola profesional di Indonesia.
Langkah pertama yang ditempuh adalah mengambil alih pengelolaan klub terkenal. Pilihan jatuh ke Ayam Kinantan, PSMS Medan, yang memiliki pendukung besar tapi organisasinya berjalan kurang mulus.
Pendanaan tampaknya tidak masalah. Sihar adalah putra pengusaha raksasa, D.L. Sitorus, yang memiliki dukungan finansial sangat besar. Karena itu biaya menjalankan tim dan membayar pengambilalihan klub dapat ditutupi secara mudah.
Konflik tak dapat diatasi. Keinginan tak selalu selaras dengan fakta di lapangan. Rencana besar memajukan PSMS sekaligus merenovasi Stadion Teladan Medan yang semakin lapuk mentok di tengah jalan.
Nasib buruk datang menimpa. Alhasil, PSMS bukannya melejit ke posisi elite, tapi malah terdegradasi dari Liga Super Indonesia. Tekanan besar dari lingkungan sekitar yang merasa disisihkan berhasil menggusur Sihar.
Tak putus semangat, Sihar tetap kukuh untuk terus terlibat dalam pembinaan sepak bola. Selepas mengurus PSMS yang gagal, perhatian dialihkan dengan membeli klub asal Bandung, Pro Duta, yang kemudian berganti nama Pro Titan saat pindah markas ke Medan.
Kepalang tanggung, aktif mengurus klub rupanya mendorong Sihar melangkah lebih dalam lagi. Bersama rekan-rekannya pengurus sepak bola, mereka berhasil menggusur kepengurusan Nurdin Halid dari kursi Ketua Umum PSSI.
Penuh hiruk pikuk. Proses pemilihan ketua PSSI akhirnya menampilkan tokoh baru tapi stok lama dalam diri Djohar Arifin Husin. Mantan pemain PSMS ini terpilih menggantikan Nurdin.
Sebagai salah satu pendukung, pemikir, dan pengatur strategi pemenangan Djohar membuat nama Sihar tetap eksis. Balas jasa atau karena memang memiliki kapasitas, Sihar mendapat posisi penting di PSSI dengan jabatan Ketua Komite Kompetisi.
Protes yang timbul atas jabatan Sihar yang dianggap oleh pihak tertentu tidak pada tempatnya tidak digubris. The show must go on.
***
Masih muda, penuh kreativitas, dan berani melakukan terobosan. Posisi kunci membuat Sihar berpikir dan bergerak cepat. Saking cepatnya, PSSI pun mengumumkan akan memutar kompetisi Liga Indonesia dua wilayah dengan 32 klub peserta.Keputusan ini rupanya kepagian. Protes dari berbagai pihak karena tidak sesuai dengan Statuta PSSI membuat Djohar meralat kebijakan Sihar. Sang ketua menegaskan akan tunduk aturan baku dengan hanya mengenal satu wilayah dan jumlah peserta 18 klub.
Di sinilah sikap plin-plan PSSI semakin kental. Komitmen memajukan sepak bola negeri ini menjadi seperti dagelan. Dengan mudah, kebijakan yang sangat pokok dapat berubah tanpa dapat dijelaskan alasannya.
PSSI kembali mengeluarkan kebijakan unik. Kompetisi kelas satu kita akan bergulir dengan 24 klub. Anehnya, penambahan enam klub tidak diikuti data pendukung yang masuk akal, setidaknya bagi para pengamat.
Karena sering berubah dan tidak konsisten dalam bersikap, wajar bila kredibilitas pengurus PSSI 2011-15 ini merosot. Bukan hanya di mata masyarakat, tapi juga di kalangan pengurus PSSI sendiri yang mulai disharmoni. Ketua dikesankan suka mengambil keputusan di luar jalur atau hasil rapat komite eksekutif.
Sihar boleh menjadi contoh semangat muda dengan segunung harapan. Sayang, energi terkuras tanpa member hasil memadai. Memang kita tidak boleh terjebak oleh aturan kaku, namun melanggar aturan akan mengalami benturan keras dan salah secara organisasi.
Baru dalam tahap persiapan memutar kompetisi sudah diwarnai konflik. Saya sulit membayangkan bagaimana nanti rumitnya saat kompetisi bergulir dengan sejuta problem di dalamnya.
***
Ketika terpilih menjadi ketua PSSI, Djohar mengatakan bahwa tim nasional adalah muara dari pembinaan yang tersaring dari kompetisi. Tim nasional Indonesia akan semakin kuat karena didukung organisasi dan pelaksanaan kompetisi yang sehat dan jujur.Impian seperti ini patut kita dukung. Tapi, apalah artinya sebuah harapan jika tidak dapat diwujudkan dalam perjalanan sesungguhnya. Terlalu sering benturan hanya dalam urusan kebijakan akan mengganggu perjalanan menciptakan tim Indonesia yang berkualitas.
Atlet adalah aset utama. Karena itu harus disentuh dengan kemanusiaan yang penuh perhatian. Kasus menghujat pemain oleh pembina saat kalah dari Bahrain di arena Pra-Piala Dunia tidak boleh terulang lagi.
Bila pemain merasa tak dihargai dan menjadi sasaran kesalahan, akan berdampak negatif. Jadi, sebelum perselisihan ini semakin parah, ada baiknya semua pihak segera menahan diri dengan melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi.
Tugas berat yang lain telah menunggu. Masyarakat Indonesia ingin medali emas sepak bola SEA Games. November nanti, Indonesia tuan rumah SEAG, maka wajar bila dituntut merebut emas setelah 20 tahun berlalu seperti di Manila.
Betapa nikmat dan bangga bila cerita sukses yang kita informasikan ke masyarakat. Rasa bangga itu sekaligus mempertebal rasa keindonesiaan sebagai bukti cinta negeri.
Masyarakat dan Menpora Andi Mallarangeng akan bangga menjadi saksi atlet Indonesia merebut emas SEA Games. Itu sudah pasti dibanding menjadi saksi kasus korupsi Nazaruddin. Betul?
No comments:
Post a Comment