Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Thursday, September 29, 2011

Sarapan Sambil Menonton Sepak Bola

 





"Idiot!" tukas Diego Maradona. Megabintang Argentina itu balik menyerang para pengkritik Lionel Messi, yang dinilai tumpul dan tak tepat menyandang predikat Pemain Terbaik Dunia.
Copa America, yang berlangsung di Argentina, 1-24 Juli, menawarkan berbagai cerita penuh warna. Tiga tim teratas sepak bola dunia, Brasil, Argentina, dan Uruguay, tertatih-tatih keluar dari babak kualifikasi.
Kumpulan pemain-pemain termahal di dunia dan sekaligus tuan rumah Argentina sempat dicemooh. Dua kali tampil di putaran grup hanya mampu main imbang 1-1 lawan Bolivia dan 0-0 dengan Kolombia.
Sergio Batista, penerus jabatan pelatih dari tangan Maradona, mengambil keputusan keras. Susunan staring XI dirombak dengan meminggirkan Carlos Tevez ke bangku cadangan. Panggung sepenuhnya dikuasai Messi untuk mengatur irama serangan bagi Kun Aguero.
Keberuntungan yang sempat mengumpat di balik rumput tampak mekar. Tanpa ampun, gawang Kosta Rika digedor 3-0. Tapi, itu tidak cukup karena peringkat pertama Grup A sudah dikuasai Kolombia.
Uruguay, semifinalis Piala Dunia 2010, juga mengalami situasi mengerikan. Untunglah pada laga akhir penyisihan grup mampu menang tipis atas Meksiko 1-0 guna meraih tiket sebagai runner-up Grup C.
Apa boleh buat, dua penyandang gelar terbanyak dengan 14 kali juara Copa Amerika ini harus saling menjegal di perempat final. Hanya satu yang berhak lolos ke semifinal, Tango atau Los Celestes, pada laga di Stadion Santa Fe (16/7).
Messi, si boncel pewaris titisan bakat Maradona itu, sudah mulai menemukan bentuk permainan. Batista tidak lagi menempatkan La Punta sebagai striker, tapi ditarik sedikit ke tengah di belakangan kombinasi striker Aguero dan Higuain.
Ibarat lomba atletik, berlaga di turnamen bukan strategi sprint, tapi maraton. Setiap tim harus cerdik mengatur irama permainan agar tidak kehabisan stamina di babak-babak awal. Mungkin trik itu yang dijalankan Tim Tango, namun sama sekali tak boleh lengah karena bisa tersingkir.
***
Sepanjang bulan ini, kita di Indonesia bagaikan raja yang disuguhi ton-tonan sepak bola kelas dunia sambil menyeruput kopi di pagi hari. Kumpulan pelakon sepak bola terbaik dari berbagai kompetisi di Eropa maupun di Amerika Selatan adu ketangkasan.
Pesta sepak bola tertua di dunia itu sudah berlangsung sejak 1916 di Argentina. Banyak mengalami kendala, tapi sejauh ini dapat diatasi dengan berbagai inovasi. Awal dilaksanakan setiap tahun, tapi terkadang menjadi setiap dua tahun atau sekali tiga tahun. Belakangan ditetapkan sekali empat tahun pada tahun ganjil.
Turnamen ini sebenarnya hanya diikuti 10 negara yang tergabung dalam konfederasi Conmebol. Guna lebih menarik perhatian dunia, maka dalam setiap pelaksanaan mengundang dua negara tamu. Tahun ini Meksiko dan Kosta Rika yang menggantikan Jepang. Sebelumnya Amerika Serikat dan Honduras pernah berpartisipasi.
Peningkatan kualitas pertandingan menjadi daya tarik utama. Apalagi pemain terbaik setiap negara wajib ambil bagian. Tidak ada alasan pemain termahal sekalipun menolak berpartisipasi. Itu pula sebabnya tahun ini tercatat 200 negara menyiarkan kejuaraan ini secara langsung di televisi.
Sepuluh negara peserta tetap anggota Conmebol adalah; Argentina, Uruguay, Brasil, Paraguay, Peru, Cili, Kolombia, Bolivia, Venezuela, dan Ekuador. Dari pelaksanaan sejak 1916 tercatat Argentina dan Uruguay pernah 14 kali juara diikuti Brasil (8), Paraguay (2) Peru (2), Kolombia dan Bolivia masing-masing sekali.
Terjadinya perubahan peta kekuatan setidaknya di babak penyisihan grup membuat penonton semakin penasaran. Betulkah kandidat kampiun, Argentina, dan juara bertahan dua kali berurutan, Brasil, akan tersingkir?
Pertanyaan seperti itulah yang membuat permainan sepak bola semakin menarik. Tidak ada jawaban pasti sebelum wasit meniup peluit panjang. Jadi, tetaplah menikmati laga sambil mengudap sarapan pagi.
***
Dilihat dari sisi ekonomi dan politik, sebenarnya Argentina tidak jauh-jauh banget dari Indonesia. Walau demikian, kita harus mengakui prestasi atlet mereka jauh di atas. Cabang sepak bola, tinju, tenis, voli, basket, balap mobil, bahkan renang mereka sangat maju. Indonesia hanya menonjol di tinju pro dan bulu tangkis.
Setiap kesuksesan harus diperjuangkan. Tidak mungkin hasil terbaik dicapai tanpa usaha keras melalui perencanaan matang. Memang, sejarah panjang Argentina membuat sepak bola mereka maju pesat dan berkembang menjadi sumber devisa.
Bagaimana kita di Indonesia? Terpilihnya Djohar Arifin Husin menjadi Ketua Umum PSSI membuat kita berharap ia membawa perubahan berarti. Semoga apa yang diungkapkan untuk membangun sepak bola profesional dapat terwujud, tidak sekadar pandai di atas kertas.
Mungkin terlalu jauh bila Djohar dan kawan-kawan dituntut segera menghadirkan prestasi dunia. Namun, meraih medali emas SEA Games di Palembang, November mendatang, adalah hal wajar. Tentu ini menjadi alat ukur paling sah, apakah pengurus PSSI yang baru memiliki kapasitas memadai.
Perkembangan sepak bola modern sudah didorong menjadi industri, sementara kita masih sibuk mengurusi administrasi standar. Era sepak bola Indonesia yang baru sejatinya berpikiran terbuka dan memiliki visi jauh ke depan.
Tapi, jangan bicara kompetisi berkua-litas dulu, deh. Gimana kalau berkonsentrasi dulu membenahi infrastruktur? Melompat di pijakan becek tak akan menghasilkan loncatan tinggi. Betul, Bung Djohar?
ian@bolanews.com
(Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA No. 2.222 terbit 14 Juli 2011)

No comments: