Gonjang-ganjing perubahan Kabinet Indonesia Bersatu II sudah reda. Rumor akan dicopotnya jabatan Menteri Pemuda dan Olah Raga sirna. Andi Mallarangeng tetap duduk di posisi seperti sekarang ini.
Kita berharap keputusan akhir dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu membuat Menpora dapat melaksanakan tugas secara fokus. Kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games yang melibatkan pejabat di Kemenpora memang selama ini sangat mengganggu.
Akibat dari berbagai isu negatif ini merembet ke mana-mana. Pembangunan sarana fisik di Palembang terbengkalai dan sangat mengkhawatirkan. Akibatnya, rencana uji coba atlet menjajal fasilitas pertandingan pun tidak sesuai jadwal.
Bukan hanya citra Indonesia menjadi buruk di mata internasional, terutama oleh 10 negara kontestan lain. Status negeri ini sebagai sarang koruptor yang sudah mengakar pun semakin kental.
Apakah semua cobaan ini mematikan ambisi Indonesia kembali menjadi nomor wahid di Asia Tenggara?
Jangan. Itu tidak boleh terjadi. Biar bagaimana pun, dalam tekanan seberat apa pun, atlet harus bangkit dan menunjukkan diri sebagai bagian dari negara pejuang. Semakin banyak tantangan, maka semakin kuat keinginan menjadi yang terbaik.
Walau banyak pejabat yang akhlaknya tidak elok, masih banyak masyarakat yang peduli dan memberi dukungan. Kegigihan atlet berjuang di medan laga bukan untuk pejabat korup, tapi demi nama baik bangsa Indonesia.
***
Rabu lalu, saya terlibat diskusi yang diselenggarakan Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI). Sebuah kegiatan yang dikelola organisasi nonpemerintah yang bertujuan memberikan dukungan kepada mantan atlet berprestasi.Sebagai seorang pengamat olah raga, saya kagum gerakan yang mereka lakukan. Bukan mencari popularitas atau memanfaatkan momentum dekadensi prestasi atlet kita. YOI terpanggil karena melihat banyak atlet yang dulu beken dan berprestasi tapi mengalami kesulitan di hari tua.
Ina Febriana, peraih medali emas Taekwondo pada SEA Games 1987, turut angkat bicara. Menurutnya, atlet harus mampu menata masa depan dengan tidak sepenuhnya menyandarkan pada bantuan pemerintah.
"Atlet harus memperhatikan pendidikan formal di sela-sela kesibukan latihan sebagai bekal di hari tua. Biar bagaimana pun, atlet akan kembali ke tengah masyarakat dan melanjutkan hidupnya," kata Febriana, yang kini menjadi pelatih SEA Games, memberi saran.
Sebagai pelatih, apakah Febriana optimistis atlet Indonesia akan mendominasi arena tekwondo di Palembang nanti? "Optimistis boleh, tapi harus realistis. Kita tidak punya taekwondoin juara dunia, sementara Vietnam punya tiga dan satu dari Filipina yang juara dunia."
Dalam diskusi tersebut, seorang wartawan bertanya: "Menurut Anda apakah realistis jika Indonesia pasang target menjadi juara umum SEA Games pada November mendatang?"
Sebuah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Sebagai bagian dari bangsa ini, saya katakan bahwa inilah saat paling tepat bagi Indonesia menjadi juara umum lagi. Enam pelaksanaan SEAG sejak 1999, Indonesia tidak lagi superpower di Asia Tenggara.
Peranan tuan rumah sangat besar artinya bagi Indonesia. Sayang, rencana besar itu terganggu berbagai intrik politik yang diperparah lagi oleh kasus korupsi. Pukulan telak ini mau tidak mau menjadi bagian dari kemerosotan prestasi dan reputasi Indonesia.
***
Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin, menjamin pembangunan sarana pertandingan selesai tepat pada waktunya. Faktanya memang banyak pembangunan yang penyelesaiannya di luar tenggat waktu. Tapi, seperti kata orang, lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali.Sudahlah, segala hantaman, kritikan, atau mungkin makian sudah telanjur. Tidak perlu ada lagi pemikiran untuk menunda, apalagi membatalkan pelaksanaan SEAG sesuai jadwal, 11-25 November. Dengan segala kekurangannya, kita harus menerima itu sebagai kenyataan pahit.
Memang sangat menyakitkan, bagaimana negara terbesar keempat di dunia ini sangat repot menjadi tuan rumah lingkup Asia Tenggara. Karena itu, sulit membayangkan Indonesia menjadi penyelenggara Asia Games seperti 1962 atau mungkin berharap menjadi pelaksana Olimpiade.
Eh, jangan anggap enteng. Di semua ajang multievent, SEAG, AG dan Olimpiade, atlet Indonesia sudah membuktikan diri sebagai peraih emas. Sayangnya, prestasi masa lalu bukannya ditingkatkan, tapi malah merosot. Pasti ada kesalahan dalam struktur pembinaan kita.
Pada diskusi YOI lalu, saya kembali mengingatkan agar cara kerja diletakkan pada tatanan yang sebenarnya. Pemerintah harus serius memberi perhatian dengan dana pembinaan mencukupi dan pembangunan kompleks olah raga modern sebagai pengganti fasilitas Senayan yang sudah berumur 50 tahun.
Mengembalikan pembinaan olah raga prestasi sepenuhnya kepada KON/KOI. Pemerintah cukup bertindak sebagai regulator dan fasilitator tanpa terlibat secara langsung sebagai pelaksana teknis. Kalau tidak, akan rancu lagi sehingga tumpang tindih.
Kenyataan memang tidak selalu seindah harapan. Sambil menunggu kebijakan Menpora, sebaiknya kita tunggu SEAG terlaksana dengan baik. Masih adakah peluang Indonesia menjadi juara umum? Pasti! Tapi, Anda tak perlu kecewa bila keinginan itu belum menjadi kenyataan di Palembang.
Walau khawatir, kita harus selalu optimistis!
No comments:
Post a Comment