Inilah ucapan seseorang yang baru dilepaskan dari tahanan selama 27 tahun di Kepulauan Robben. Di hadapan ribuan pendukungnya, pada Februari 1990, pria berkulit hitam kelahiran 18 Juli 1918, tak menunjukkan sikap dendam atas tuduhan yang tak terbuktikan.
Nelson Rolihlahla Mandela tak berhenti memberikan kita pelajaran bagaimana membangun sebuah bangsa dan melupakan perbedaan yang hanya akan berujung pada kehancuran.
Drama-drama tak berkesudahan di sepak bola Indonesia kembali membawa saya ke sosok pria luar biasa ini. Persoalan semakin menjadi-jadi ketika sekelompok klub seolah bangun dari pingsan dan berdiri tegak menentang sang penguasa yang dianggap tidak kredibel mengurusi federasi sepak bola kita.
Tajuk "10 versus 14" menjadi judul sinetron dari Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta, Kamis 13 Oktober 2011. Perseteruan usai menjatuhkan rezim Nurdin Halid memasuki babak baru, yang ujungnya tak kelihatan.
Pernahkah kita membaca atau mendengar seruan Mandela untuk memusuhi Frederik Willem de Klerk, penguasa Afrika Selatan di rezim apartheid, dan para pengikutnya?
Dalam pidatonya, sang pemimpin karismatik tersebut berkata, “Jangan pernah lagi tanah indah ini mengalami tekanan dari orang lain dan menderita sebagai budak dunia.”
Keputusan Mandela memperkerjakan pengawal kepresidenan berkulit putih, yang sebelumnya melindungi De Klerk, tak mudah diterima kelompok yang selama ini merasakan penindasan kaum bule. Warga kulit hitam beranggapan, inilah saatnya mereka berkuasa, inilah saatnya pembalasan!
Bagaimana mungkin Mandela memercayakan keselamatannya kepada sekelompok pria putih bertubuh besar yang sangat terlatih dan dituding telah berulangkali mencoba membunuh dirinya dan warga kulit hitam?
Tapi Madiba, begitu Mandela dipanggil, berkata, “Pelangi bangsa dimulai dari pengawal presiden, orang-orang yang menjadi pusat perhatian." Aksi memaafkan diawali dari kantor presiden, sosok yang merasakan penindasan rezim sebelumnya.
Mandela mengimpikan rekonsiliasi demi kejayaan negeri. Ia yakin, dengan memaafkan orang yang bersalah akan membebaskan jiwa kita dari tekanan, menghilangkan ketakutan, dan menjadi senjata paling ampuh di dunia.
Mandela, yang juga identik dengan kemeja Batik, menunjukkan kepada dunia bahwa olah raga adalah salah satu senjata paling ampuh untuk menyatukan kelompok yang berbeda.
Di Afrika Selatan, sekelompok anak-anak berkulit hitam dengan sepatu butut dan bola yang tak lagi bundar bergembira bersama di tanah kosong, menendang dan mencoba mencetak gol. Di sisi yang lain, dengan seragam keren dan peralatan latihan yang canggih, pemuda berkulit putih dengan bangga berlatih rugbi.
Di Afsel, sepak bola mewakili masyarakat berkulit hitam dan rugbi menjadi olah raga milik kaum bule, kelompok yang telah menghilangkan impian warga kulit hitam di rumahnya sendiri.
Penstigmaan di Afrika Selatan bukan hal mudah untuk dihilangkan. Seorang anak berkulit hitam tak akan mau mengenakan jersey latihan tim rugbi walau ia hanya punya pakaian yang kering dan basah di badan.
Memakai kostum rugbi sama artinya dengan merelakan diri menjadi korban amarah anak-anak kulit hitam lain. Rugbi divonis sebagai keluarga apartheid, sistem pemisahan manusia berdasarkan ras.
Dalam panggung berbeda, stigma seperti itu kerap dimunculkan ketika orang lain berbeda pendapat atau tidak mendukung kebijakan penguasa. Pencitraan untuk membunuh karakter orang lain begitu mudah dilakukan, termasuk di negeri ini.
Mandela mengambil risiko dimusuhi kaumnya sendiri ketika ia berusaha menjadikan rugbi sebagai alat pemersatu bangsa yang terpecah-belah. Padahal, bagi masyarakat kulit hitam, kemenangan Mandela adalah momentum menyingkirkan semua embel-embel berbau apartheid, termasuk olah raga yang mereka sukai.
Sikap Mandela ini membawanya kepada garis batas antara kawan dan lawan di hadapan Dewan Olah Raga Nasional Afrika Selatan, yang diisi warga kulit hitam. Apakah Mandela begitu bodoh membiarkan kursi istana dan kesempatan memimpin Afrika Selatan demi tim rugbi?
Bila Mandela ingin mengejutkan lawannya dengan kesabaran, maaf, daya tahan, dan kemurahan hati, dengan apa kita menghadapi musuh organisasi, dalam hal ini sepak bola di Tanah Air?
Saya tertarik dengan sebuah penegasan Mandela yang disampaikan berulang-ulang dalam pidatonya, “Tak ada waktu untuk merayakan balas dendam. Kita harus mengejar ketertinggalan membangun bangsa ini, mempergunakan semua modal yang kita miliki.”
Oleh Mandela, fondasi Afrika Selatan adalah batu bata yang dibungkus semua warna, termasuk hijau dan emas, karakter yang mewakili Springbok, julukan tim nasional rugbi Afrika Selatan.
Salah satu kalimat yang saya suka dari seorang pemimpin (terpilih) seperti Mandela adalah, “Anda memilih saya sebagai pemimpin, sekarang biarkan saya memimpin kalian semua.”
Pernahkah membayangkan bagaimana situasi di Afsel saat ini bila strategi Nelson Mandela ketika itu adalah politik balas dendam?
Ketika pemimpin mengambil kegembiraan (sepak bola) dari masyarakat karena kebutuhan strateginya, mereka hanya akan menjadikan diri sendiri sebagai target amarah publik yang suatu saat akan meledak dan merusak semua fondasi yang sudah ada. Menyedihkan! #
No comments:
Post a Comment