Dalam sebuah kesempatan, pimpinan Kelompok Gramedia (KG) pernah melontar sebuah pertanyaan yang belum lekang dari ingatan saya. "Kenapa kaca depan mobil lebih besar daripada kaca spion?"
Sebuah perumpamaan sederhana namun kaya makna. Dengan mudah kita memahami bahwa ukuran kaca depan itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kaca spion. Perbedaan peran keduanya pun enteng untuk diucapkan, yakni kaca spion bertugas untuk memperlihatkan keadaan di belakang kita, sedangkan kaca depan memandang situasi di hadapan.
Bila dikaitkan dengan kehidupan, filosofi kaca mobil ini mengajarkan kita agar memberi perhatian lebih besar kepada masa depan walau tidak melupakan sejarah, kejadian yang telah mengantarkan kita pada keadaan dan posisi saat ini.
Pembaca, weekend pertama di Juni ini mengajak kita terlibat dalam pertandingan negara-negara Eropa dalam memburu tiket ke Polandia dan Ukraina, tuan rumah Euro 2012. Walau secara jelas Indonesia tak punya kepentingan dalam pertarungan itu, kembali sepak bola memperlihatkan kekuatannya yang tak terhadang oleh jarak dan waktu.
Euro 2012 akan menjadi perhelatan terakhir kejuaraan yang mengadu 16 peserta. Mulai 2016 di Prancis, UEFA menambah jumlah peserta menjadi 24 negara.
Sebenanya, saya berharap Grup I juga mementaskan laga kualifikasi yang menyangkut jawara Piala Dunia 2010, Spanyol. Bukan hanya karena status La Furia Roja sebagai juara bertahan Piala Eropa, sesungguhnya saya ingin melihat suasana tim asuhan Vicente del Bosque tersebut.
Pementasan duel klub terpanas di muka bumi, el clasico, sebanyak lima kali dalam semusim, plus kehadiran sosok kontroversial seperti Jose Mourinho, disebut-sebut mengancam keutuhan timnas Spanyol.
Walau berulang kali Del Bosque mengatakan tak khawatir akan dampak el clasico, tetap saja kita sulit menebak dalam lautan hanya dari riak ombaknya.
Namun keampuhan filosofi kaca mobil rasanya akan dijawab pasukan La Furia Roja dalam waktu dekat. Di Amerika, tajuk duel weekend ini memang hanya persahabatan. Spanyol membantu The Stars and Stripes mempersiapkan diri tampil di Piala Emas 2011 yang mereka gelar pada 5-25 Juni.
Penantian saya bukan soal menang atau kalah, melainkan cara pemain-pemain Spanyol memeragakan sepak bola gaya tiki-taka yang telah mereka perlihatkan di Euro 2008 dan Piala Dunia 2010. Setelah lima kali berduel dalam el clasico dengan tensi tinggi, masihkah punggawa dari Barcelona dan Real Madrid bisa berkerja sama dan menepikan persaingan level klub?
Bukan bermaksud mensyukuri penderitaan Eric Abidal, bek Barcelona. Saya mengagumi daya juang pria Prancis ini untuk melawan kanker hati yang divoniskan dokter pada Maret lalu. Luar biasa kepercayaan dirinya untuk kembali tampil berkeringat dalam pertandingan level tinggi, termasuk Liga Champion. Lihat juga dampak dari sakitnya itu.
Simaklah komentar Cristiano Ronaldo usai tumor sebesar 4 cm itu diangkat dari hati Abidal, "Saya harap operasinya berjalan baik dan ia kembali ke lapangan. Teman saya, Marcelo dan Pepe, juga ikut berdoa untuk kesembuhannya."
Kaka juga berkomentar, "Sungguh berita sedih yang menimpa Abidal. Mari kita berdoa bagi kesembuhannya. Tuhan memberkati Abidal."
Lalu, sekitar 400 juta manusia menyaksikan penampilan Abidal di final Liga Champion. Sebuah nasihat disampaikannya secara jelas bahwa jangan pernah berhenti berjuang untuk menjadi lebih baik.
Pesan-pesan positif dari kubu Madrid tentu bisa menjadi penyejuk atmosfir panas di kubu Madrid dan Barca. Pertengkaran kedua tim di media massa yang menjadi bara el clasico tinggal masa lalu. Kompetisi sudah selesai dan Madrid harus mengakui keberhasilan Barcelona.
Di depan Xavi Hernandez dan Sergio Ramos, mewakili kedua tim, ada situasi yang lebih penting untuk dicermati. Ya, Spanyol punya tugas menjaga gelar juara Piala Eropa yang mereka raih dengan menundukkan Jerman 1-0 di Kota Wina, Austria, Juni 2008.
Walau Spanyol kini masih memimpin babak kualifikasi Euro 2012 di Grup I berkat lima partai yang berujung kemenangan, tanpa memberi perhatian lebih besar kepada situasi di hadapan, langkah mereka bisa berantakan untuk mempertahankan gelar.
Sungguh menyenangkan membaca komentar gelandang Barcelona, Andres Iniesta, baru-baru ini tentang el clasico dan La Furia Roja. Katanya, "Tak ada masalah di antara kami. Kini kami bersatu dalam tim nasional dan memiliki tujuan yang sama."
Iniesta, dan saya yakin dengan pemain-pemain Real Madrid dan Barcelona yang dipanggil Vicente del Bosque, pasti paham makna filosofi kaca mobil. Bila perhatian mereka lebih dikuasai kaca spion, mobil La Furia Roja bisa saja menabrak tembok. Saat ini, mereka memberi perhatian lebih besar kepada tujuan yang sama, yakni kejayaan tim nasional, bukan lagi klub.
Doa-doa dan harapan terhadap kesembuhan Abidal telah menjadi jembatan antara dua kubu yang bersiteru. Seperti hati Abidal, sepak bola Indonesia saat ini pun digerogoti kanker. Kita butuh doa dan operasi (Kongres PSSI) yang sukses seperti Abidal. Seluruh stakeholder, insan-insan sepak bola di Tanah Air, hendaknya memiliki filosofi kaca mobil di benaknya. Lupakan perseteruan demi masa depan. #
No comments:
Post a Comment