Bung, tahukah Anda pemain-pemain Deltras belum gajian selama sembilan bulan? Mereka harus menjual aset pribadi untuk menghidupi keluarga. Persebaya pun nunggak gaji pemainnya selama delapan bulan. Persikabo dua bulan.
Dor! Berita ini akan mengejutkan bagi mereka yang terbuai janji-janji indah pengurus atau calon pengurus sepak bola di negara ini. Namun isi pernyataan dari seorang kenalan via Twitter beberapa hari lalu tak terlalu mengagetkan saya. Baiklah, tak usah kita perdebatkan kebenaran kabar ini, tapi mari lihat kegelisahan yang muncul karenanya.
Cerita tentang pemain dan keterlambatan gaji mereka sesungguhnya bukan barang baru di negeri ini. Walau di Eropa juga pernah ada keluhan yang sama (ingat cerita klub Hercules di La Liga, Spanyol?), perbandingannya tak bisa mentah-mentah kita lakukan. Panggung sepak bola di negeri ini terlalu sering menyepelekan hak dan kewajiban, yang akhirnya memberangus bibit-bibit unggul bangsa dari rumput hijau.
Pembaca, siapa pun tahu bahwa bibit tanaman yang berkualitas unggul akan tumbuh dan memberikan buah yang diharapkan ketika ia ditanam di tanah yang subur.
Tapi, sebaik apapun bibit yang kita punyai bila ditanam di bebatuan atau tanah kering sulit tumbuh normal dan menghasilkan buah yang baik. Lama-kelamaan, tanaman itu akan layu dan mati tanpa sempat memberi hasil.
Begitu pula bakat-bakat sepak bola di Tanah Air. Hampir semua kita sepakat bahwa secara individu anak-anak Indonesia punya talenta hebat dan memiliki bakat menjadi pesepak bola kelas dunia. Tapi kenapa ketika tampil sebagai tim sulit sekali memberi prestasi? Itu cerita lain lagi.
Sudah berapa banyak tokoh sepak bola dunia datang berkunjung ke Tanah Air dan berkata, “Anak-anak Indonesia punya bakat yang baik dan bisa menjadi pesepak bola kelas dunia”?
Mungkin, mungkin mereka hanya basa-basi karena ingin menyenangkan pihak pengundang. Tapi bila menilik sejarah sepak bola Indonesia, pemuda-pemuda kita kerap mengundang decak kagum lawan. Ketika remaja, saya kerap membaca pujian terhadap tim pelajar kita yang disegani di Asia.
Dalam sebuah kesempatan di Rio de Janeiro, Brasil, saya sempat menguping pembicaraan Jacksen F. Tiago, pelatih Persipura yang tengah berlibur di kampung halamannya, dengan salah seorang pengurus Federasi Sepak Bola Brasil (CBF). Ketika itu, Jacksen memuji talenta anak-anak di Papua yang menurutnya tak kalah dari remaja-remaja di Brasil.
Hanya, mantan striker Persebaya itu menyebut kurangnya arahan, dukungan, dan sarana untuk membantu anak-anak di Papua mengembangkan bakat yang mereka miliki.
Tentu tak hanya di Papua, anak-anak Indonesia adalah bibit-bibit tanaman unggul yang butuh tanah subur dan ladang atau sawah yang digarap dengan serius.
Ladang dan sawah itu merupakan kompetisi dan atmosfir dunia sepak bola. Kompetisi tanpa kepercayaan pada korps pengadil bukanlah tanah yang subur. Kompetisi yang wasitnya bisa diatur memihak pihak tertentu jelas bukan lahan untuk mengembangkan pemain-pemain muda dengan benar.
Tak mungkin kita menyebut atmofir sepak bola di Tanah Air sebagai lahan yang subur bila pertikaian di jajaran pengurus tidak henti menjadi berita utama olah raga.
Coba simak, berapa lama berita tentang euforia timnas di Piala AFF 2010 hadir di media massa dibandingkan dengan kisruh di tubuh PSSI?
Sepak Bola Harapan
Bila kita tak punya sikap, pemahaman, serta kompetisi yang benar dan ideal untuk talenta-talenta itu, sama artinya kita menanam bibit unggul di tanah bebatuan!
Selama di Piala AFF 2010, saya menyukai permainan Ahmad Bustomi. Bagi saya, dia adalah salah satu bibit unggul yang butuh tanah subur untuk tumbuh dengan maksimal.
Saya yakin, penampilannya yang memukau selama di Piala AFF ibarat bunga yang belum mekar seluruhnya. Sangat disayangkan bila dalam proses berkembang itu Bustomi mengalami gangguan karena lahan yang ia tempati tidak subur.
Well, salah satu berita yang saya baca di Kantor Berita Reuters adalah kutipan dari sebuah harian nasional berbahasa Inggris soal gaji Bustomi dkk. yang tak lagi datang teratur. Apakah ini jawaban atas penampilan buruk Singo Edan di AFC Champions League musim ini? Entahlah!
Sebagian pembaca pernah bertanya benarkah saya frustasi dan tanpa harapan melihat situasi persepakbolaan di Tanah Air? Tidak! Dalam berbagai kesempatan, selalu saya sampaikan sebuah keyakinan bahwa “sepak bola itu tentang harapan”.
Selalu pupuk harapan itu walau mungkin kita tidak merasakan buah dari bibit yang kita tanam. Bukankah melihat benih keberhasilan dalam setiap kegagalan membuat kita tetap berharap? Bukankah melihat benih kegagalan dalam setiap kesuksesan membuat kita tetap rendah hati?
Henry David Thoreau (1817-1862), salah satu penyair dan filsuf di Amerika pernah menyampaikan ide yang punya makna sangat dalam. Begini katanya, “Sekecil apapun benih keyakinan Anda adalah lebih baik daripada buah kebahagiaan terbesar.”
Semoga buah kebahagiaan yang dimaksud bukan obral janji para calon penguasa sepak bola di negeri ini. Semoga! #
No comments:
Post a Comment