Prihatin dan sedih juga mendengar keluh kesah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia merasa kesal dan marah karena dirinya difitnah secara keji melalui penyebaran informasi tak bertanggung jawab.
Tapi, mau bilang apa? Risiko seorang pemimpin tertinggi adalah mendapat serangan terbuka ataupun tersembunyi dari lawan politiknya. Terlalu reaktif juga tak ada gunanya, begitu juga kalau bersikap pasif, nanti malah dituduh pengecut.
Biarlah segala sesuatu berjalan dan berlalu yang akan termakan waktu. Terlalu banyak masalah di negeri yang butuh konsentrasi penuh untuk dipecahkan. Masalah politik yang jauh dari etika santun, kekerasan antara warga dengan pihak keamanan, hingga korupsi yang terus menggerogoti.
Di tengah persiapan menegakkan citra olah raga Indonesia di mata publik Asia Tenggara, eh...., kantor Kementerian Pemuda dan Olah Raga malah diwarnai penangkapan koruptor. Sekretaris Kemenpora, Wafid Muharam, dijebloskan ke rumah tahanan. Menpora Andi Mallarangeng juga dipanggil KPK.
Semua ini sudah sangat terbuka. Sepertinya tidak ada lagi kata sakti untuk ngeles dari tudingan negatif. Cibiran dan hinaan bakal semakin kencang datang dari para tamu kita saat mengikuti SEA Games pada November nanti di Jakarta dan Palembang.
Mungkin saja mereka akan mengatakan: saat ini kita berada di tempat di mana bangunan ini dibangun dengan warna korupsi. Bau busuk memang tak akan pernah dapat disembunyikan.
Bukan hanya citra Menpora yang merosot, tapi juga tempat dia bernaung di bawah panji Partai Demokrat. Rupanya diindikasikan terjadi konspirasi dalam rencana pembangunan fasilitas wisma atlet di Palembang. Adalah M. Nazaruddin, bendara partai berlambang berlian biru itu, terlibat.
Sangat memalukan bagaimana para pejabat negeri ini merampok hak rakyat. Bagaimana orangorang terpandang dan terhormat yang seharusnya bertabiat panutan ternyata bak predator sadis memangsa segalanya.
Padahal, ya, menjadi tuan rumah pesta olah raga se-Asia Tenggara ini membawa dua misi besar: Menegakkan citra Indonesia yang makin bersih dan baik sebagai tuan rumah dan Mengembalikan citra Indonesia sebagai kekuatan olah raga terbesar sekawasan.
Misi pertama sudah hancur. Berita korupsi tak mungkin ditelan sendiri dan dibersihkan lagi karena sudah beredar luas. Misi kedua menjadi nomor wahid lagi di berbagai arena masih bisa. Tapi, saya menyarankan agar diperoleh dengan cara sportif, tidak boleh menghalalkan semua cara.
Dalam situasi memilukan saat ini, berita sedih datang juga dari arena bulu tangkis. Tim Piala Sudirman kita tak mampu lolos ke final di Cina. Simon Santoso cs. dikalahkan Denmark saat berlaga menuju partai final.
Kondisi ini membuat hati saya merinding. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana di Olimpiade London 2012 nanti. Apa masih ada kemungkinan Indonesia mampu mempertahankan tradisi medali emas bulu tangkis di Olimpiade? Hati-hati, ini sudah lampu merah.
Mau contoh yang lebih ekstrem lagi? Bagaimana kalau cerita sepak bola kita yang hanya jago di arena debat dan perang mulut? Ahli dalam mempertahankan kebenaran sendiri, tapi belum pernah menunjukkan ketangguhan menggapai prestasi.
***
Dua kali sudah PSSI melaksanakan kongres untuk memilih pengurus baru periode 2011-2015. Di Riau, kongres pada 26 Maret itu bubar karena dianggap ada intervensi pihak keamanan sehingga situasi tak lagi kondusif.FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia kemudian membentuk Komite Normalisasi (KN), yang diketuai Agum Gumelar. Ada syarat keras yang dikeluarkan, yaitu empat tokoh, Nurdin Halid (NH), Nirwan Dermawan Bakrie (NDB), George Toisutta (GT), dan Arifin Panigoro (AP), tak boleh diajukan sebagai kandidat ketua dan wakil.
Kongres berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, 20 Mei dengan harapan berjalan sesuai agenda FIFA. Apa yang terjadi? Kacau-balau karena para pemilik suara yang dikenal sebagai Grup 78 tidak setuju pada usulan KN maupun FIFA.
Berjam-jam perdebatan yang dihadiri Thierry Regenass dan Frank van Hattum dari FIFA maupun Alex Soosay dari AFC dibuat pusing tujuh keliling. Bingung karena ada yang menuntut Agum mundur dari KN, kalau tidak akan dikenakan mosi tidak percaya. Tuntutan lainnya, nama GT dan AP harus dimasukkan sebagai kandidat.
Tuk.... tuk.... tuk..... Tangan Jenderal Agum Gumelar mengetokkan palu. Ia tak kuasa lagi menahan emosi. Kongres dihentikan tanpa hasil. Suasana tampak ricuh dan tak terkendali.
Berbagai pihak mencoba melobi ke Zurich agar tidak dikenakan sanksi. Agum kembali bertemu FIFA dan mendapat jaminan bahwa Indonesia tak kena sanksi. Kongres berjalan 30 Juni dengan NH, NDB, GT, dan AP tak boleh ikut. Kalau gagal memilih ketua, maka per 1 Juli Indonesia akan dijatuhi hukuman.
Mungkinkah gonjang-ganjing PSSI akan berakhir dengan mulus? Tampaknya harapan itu masih jauh. G-78 belum mau mengendorkan niatan mengurus GT dan AP. Sangat disayangkan kalau sikap keras itu terus dimunculkan. Bisa-bisa kongres kembali gagal dan Indonesia akan kena sanksi.
Lalu, apa jalan tengah yang dapat menyenangkan semua pihak. Saya kembali mengusulkan agar Pak Presiden bersedia menjadi penengah. Memanggil Andi Mallarangeng diikuti GT, AP, dan Agum untuk saling memahami situasi nyata.
Jika PSSI masih menganggap FIFA adalah induk sepak bola dunia, maka kita harus tunduk pada aturannya. FIFA memang bukan surga yang tanpa cela, tapi faktanya kekuasaan ada di tangan mereka.
Ikut aturan FIFA atau keluar? Pilihan ada di tangan para pemilik hak suara sepak bola Indonesia.
(Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA No. 2.204 terbit 2 Juni 2011)
No comments:
Post a Comment