Beda tempat memang beda gaya. Itulah gunanya banyak mereguk pengalaman karena melakukan banyak perjalanan ke berbagai tempat.
Pengalaman saya kali ini tergolong unik dan menyentuh perasaan. Ketika Andika Nuraga Bakrie (Aga), yang baru saja mengakuisisi klub RCS Vise, Belgia, melakukan kunjungan ke kantor wali kota, saya ikut rombongan.
Seorang pria tua berambut dan berjenggot putih datang menyambut dengan ramah. Memberi salam kepada tamunya di depan kantor wali kota di pinggir jalan, persis ruko tanpa halaman.
Dalam hati saya bergumam, ”Masak iya sih kantor wali kota begini doang?” Tidak ada satpam, tak ada tukang bawa teks pidato, tak ada protokoler berlebihan, pokoknya sangat sederhana.
Basa-basi di halaman kantor secukupnya, kemudian naik ke lantai dua tanpa lift. Sedikit formal dengan sambutan resmi dari wali kota bernama Marcel Neven. Aga pun membalas dengan ucapan terima kasih karena disambut baik di Vise.
Ketika kunjungan berakhir, semua orang kembali berada di depan kantor kecil nan sederhana itu. Pak Neven merogoh kantungnya. Ia mengeluarkan kunci dan menutup sendiri pintu kantor wali kota.
Alamak, Pak Wali tak ubahnya pemilik toko yang bekerja sendirian. Pikiran saya melayang jauh ke Indonesia. Tak terbayangkan seorang Pak Wali berperangai seperti Pak Neven itu.
Mungkin gaya Pak Neven yang terlalu bersahaja atau justru perangai Pak Wali kita di Indonesia yang gila hormat. Atau, Pak Neven ini sebenarnya menerapkan budaya kita yang mengatakan bahwa pejabat itu untuk melayani, bukan dilayani.
***
Karena boleh mendengarkan pembicaraan Pak Neven dengan Aga, saya santai saja ikut di ruangan berlantai semen tua tanpa karpet itu. Pak Neven ngomong Prancis, Aga menjawab dalam bahasa Inggris, tapi tetap nyambung. Santai apa adanya.Satu pertanyaan dilontarkan Pak Neven. ”Kenapa Anda tertarik berinvestasi di kota kecil ini, bukan di kota besar dan prestasi klub hebat”.
”Terima kasih kami didukung wali kota. Tujuan kami bukan sepenuhnya komersial, ada misi pengembangan sepak bola di negara kami. Vise cocok untuk membina pemain muda,” jawab Aga lancar.
Blada–bladi, kunjungan setengah jam itu berakhir diwarnai suasana hangat. Pada prinsipnya Pak Neven memahami niat Aga dan menyatakan dukungan atas usaha yang dilakukan.
CS Vise, klub peringkat 5 Divisi 2 Liga Belgia, sekarang dimiliki keluarga Bakrie. Pembelian klub ini atas rekomendasi partner Bakrie di Eropa, Roberto Regis Milano. Penjajakan pembelian klub telah dipantau selama dua tahun.
Pertimbangan pokok bukan peringkat klub, tapi lebih mengutamakan fasilitas pendidikan pemain muda. Vise saat ini memiliki 400 siswa dari berbagai tingkat usia. Ada 10 lapangan latihan dengan diawasi 40 pelatih.
Di tempat terpisah, Vise sendiri memiliki stadion kecil berkapasitas 3.000 penonton. Dua lapangan lainnya di samping stadion diperuntukkan sebagai markas pemain senior.
Kita berharap klub ini berkembang seiring bersinarnya pemain muda Indonesia di Eropa.
***
Selama seminggu anjangsana di Eropa, terkadang pikiran saya tersedot masalah dalam negeri. Apa lagi kalau bukan konflik sepak bola kita.Agum Gumelar (AG) sebagai KetuaKomite Normalisasi (KN) merangkap Komite Pemilihan (KP) terus mendapat perlawanan. Kalau bukan AG, mungkin situasi akan semakin runyam.
Terkadang saya tidak habis pikir, kenapa hal-hal yang jernih dan benderang dibuat keruh dan gelap. Sudah jelas FIFA memberi wewenang kepada KN, tapi para insan sepak bola kita melontarkan tudingan miring.
Awalnya bersatu untuk menggulingkan rezim Nurdin Halid (NH). Setelah NH tersingkir, agenda berikutnya lahir, ingin merebut kekuasaan dengan memaksakan kehendak.
Dengan kegigihan kelompok tertentu yang tidak pada tempatnya, saya pun bertanya dalam hati. Apa orang-orang seperti ini pantas disebut pencinta sepak bola sejati? Atau orang seperti ini adalah racun!
Nirwan Bakrie, satu dari empat kandidat ketua PSSI yang ditolak FIFA, memberi reaksi positif. Membangun sepak bola tak mesti jadi ketua, bukan jabatan tapi tindakan.
Membeli klub Eropa adalah jendela Eropa untuk pembinaan pemain nasional sudah dimulai. Membeli saham mayoritas klub Divisi 2 Belgia, RCS Vise.
Nirwan dan Aga, putra sulungnya, memang kombinasi komplet. Keduanya sama-sama gila sepak bola. Tidak melulu berpikir meraup untung tapi menebar bibit secara nyata untuk dipetik suatu waktu kelak.
Saya pikir aksi keluarga Bakrie ini sangat tepat. Kalau saja dana yang terhambur selama proses kongres PSSI yang diwarnai berbagai kekisruhan menjadi modal bagi pemain muda belatih di negara maju, betapa itu lebih bermanfaat.
Berselisih pendapat boleh saja dan sah, tapi tidak lantas diwarnai pemaksaan kehendak. Yang mengatakan kita itu baik bukan diri sendiri, tapi orang lain. Mengalah demi kepentingan lebih tinggi jauh lebih berguna.
Haruskah sikap arogan dan keras kepala dipertahankan walau sesungguhnya tidak rasional? Apa salahnya membuka telinga dan hati dari orang yang berseberangan.
FIFA memang bukan organisasi tanpa intrik. Tapi, saat ini, buruk rupa atau menyebalkan, FIFA adalah induk dan rumah sepak bola dunia.
Kita ingin menjadi bagian dari FIFA? Mari ikuti aturannya. Jika tidak, tinggalkan FIFA dan berani menanggung segala risiko! Pilih jalan mana?
ian@bolanews.com
(Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA No. 2.192 terbit 5 Mei 2011)
No comments:
Post a Comment