Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Thursday, January 12, 2012

Howard dan Arti Kemenangan

Apa hubungan Pat Jennings dengan Tim Howard? Apa pula kaitan Alex Stepney dengan Adam Bogdan? Pekan ini, kembali saya mendapat pelajaran mahal dari panggung sepak bola.

Bila kita mengelompokkan kiper-kiper terbaik sepanjang sejarah sepak bola, jangan lupa masukkan nama Patrick Anthony Jennings di dalamnya. Pria Irlandia Utara ini identik dengan dua klub London yang bersaing, Tottenham Hotspur dan Arsenal, walau memulai karier profesional bersama Watford.
Tak perlu banyak cerita tentang kehebatan Pat Jennings bila namanya masuk ke dalam English Football Hall of Fame. Pada 1976, Jennings terpilih sebagai Pemain Terbaik pilihan Asosiasi Pesepak Bola Professional (PFA). Ia menjadi kiper pertama yang meraih penghargaan itu.
Di level internasional, selama 22 tahun ia menjadi anggota tim nasional Irlandia Utara dan menjadi pemilik jumlah pertandingan terbanyak hingga saat ini dengan 119 penampilan.
Alex  Stepney dikenal sebagai salah satu legenda penjaga gawang Manchester United. Ia membela Si Iblis Merah pada kurun waktu 1966-78. Alexander Cyril Stepney, begitu nama lengkap pria kelahiran 18 September 1942 itu, berperan atas kehadiran gelar pertama Piala Champion bagi Man. United.
Stepney membuat Eusebio frustasi di final Piala Champion 1968 yang berlangsung di Stadion Wembley. Disaksikan lebih dari 90 ribu penonton, peluang emas Eusebio di mulut gawang mentah oleh kesigapan Stepney. Eusebio sampai harus terdiam untuk kemudian bertepuk tangan memuji kiper lawan.
Melalui perpanjangan waktu, Man. United mampu memperbaiki hasil 1-1 di laga normal dan menang 4-1. Manajer Alexander Matthew “Matt” Busby berhasil membawa United sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai Piala Champion.
Nah, kejadian yang mempertemukan kisah Jennings dan Stepney adalah Charity Shield 1967 di Old Trafford. Dalam kedudukan Tottenham unggul 1-0, dari sarangnya Jennigs melepaskan bola dari penguasaann dan menendang si kulit bundar kea rah gawang lawan.
Bola mengarah tepat ke gawang Stepney yang berdiri lebih dekat ke garis kotak penalti. Akibat salah memperkirakan pantulan bola, Stepney harus melihat gawangnya kebobolan langsung dari kiper lawan.
Rabu, 4 Januari 2012, Tim Howard mengikuti jejak Pat Jennings sebagai kiper yang mencetak gol dari daerah permainannya sendiri. Ia menjadi pembuka gol partai Everton dan Bolton Wanderers. Tapi kehebatan ini tak hanya milik  Howard dan Jennings.
Charlie William lebih dahulu melakukannya untuk Manchester City. Pada April 1900, ia membobol gawang Sunderland yang dikawal Teddy Doig. Setelah Jennigs, muncul Peter Shilton (Leicester) pada Oktober 1967, dan Paul Robinson ketika membela Tottenham melawan Watford, Maret 2007.
Untuk panggung English Premier League yang dimulai sejak 1992/93, Howard menjadi kiper keempat yang mampu membobol gawang lawannya setelah Peter Schmeichel, Paul Robinson, dan Brad Friedel.
Yang menarik bagi saya adalah reaksi Howard usai melihat Adam Bogdan, kiper Bolton, tak percaya ia melakukan kesalahan dalam menghitung arah pantulan bola. Tak ada lompatan kegirangan dan teriak keberhasilan dari Howard walau telah mempermalukan lawan.
Malah, kiper asal Amerika ini menyampaikan simpatinya karena telah membuat Bogdan terlihat bodoh walau timnya memenangkan pertandingan.
“Sebagai seorang kiper, gol seperti itu sungguh mengecewakan. Anda tak akan ingin melihat tayangan ulang gol tersebut. Saya sungguh bisa merasakan perasaan Bogdan, tapi ia tak boleh berhenti karena kejadian ini.”
Ah, bukankah Howard membuktikan bahwa sepak bola tidak mutlak soal kemenangan dan mempermalukan lawan?
***
Rabu kemarin, saya menghadiri konferensi pers Liga Kompas Gramedia U-14. Untuk yang ketiga kali, LKG U-14 yang melibatkan sekolah sepak bola di wilayah Jabodetabek digelar sejak Minggu (8/1).
Rekan Anton Sanjoyo yang menjadi ketua umum kegiatan ini tak henti-hentinya menegaskan bahwa LKG digelar bukan semata untuk mencari tim pemenang.
“Yang ingin kami berikan kepada para peserta adalah pengalaman berkompetisi, merasakan kemenangan dan kekalahan. Begitu pula kepada pelatih, mereka bisa meningkatkan kemampuan melalui kejuaraan yang kali ini digelar memakai dua putaran,” begitu ucap Joy, sapaan akrab Anton Sanjoyo.
Untuk bibit-bibit pesepak bola Indonesia ini, bukankah lebih baik bagi mereka mampu mengalahkan diri sendiri daripada meraih puluhan kemenangan di lapangan namun buruk sikap dan akhlak?
Motivasi tunggal berburu kemenangan di lapangan akan membuat lawan berjuang melakukan pembalasan. Tetapi mengalahkan diri sendiri adalah sebuah kemenangan yang tak bisa direbut pihak lain.
Niat baik panitia LKG U-14 memberikan jam terbang kepada remaja Indonesia diikuti pula dengan workshop sebelum kompetisi dimulai. Apa yang ada di benak Anda ketika panitia mengumpulkan  kapten dan wakil kapten tim peserta dalam kegiatan mengasah dan belajar cara memotivasi serta  pengetahuan membangun team work?
Sekali lagi, sepak bola bukan hanya soal kemenangan, tetap juga belajar menerima kekalahan dengan tujuan memperbaiki diri.

No comments: