Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Friday, November 4, 2011

SEA Games, Juara Umum!

Ibarat film, arena SEA Games menawarkan sebuah tontonan menegangkan. Dibuka dengan cerita konflik berkepanjangan yang mengernyitkan dahi. Nah, bagaimana akhir cerita, penonton dibuai ke arah yang serbamisterius.
Pemerintah sebenarnya sudah menaruh perhatian serius tatkala Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah SEAG ke-26. Palembang dan Jakarta disiapkan menjadi tuan rumah setelah menyisihkan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Tahun anggaran negara 2010 telah menyisihkan dana sebesar 350 miliar rupiah. Kemudian disokong lagi tahun berikutnya 2,1 triliun rupiah. Masih kurang, ditambah lagi 1 triliun rupiah dan dilengkapi dana sebesar 600 miliar rupiah. Semua ini dimaksudkan mempersiapkan sarana dan pelaksanaan.
Begitulah cerita awal yang tidak mengenakkan. Tergiur dana besar, banyak pihak ingin memperkaya diri dengan menggerogoti uang tersebut. Efek negatifnya sudah kita rasakan. Banyak rencana terbengkalai. Lebih menyakitkan lagi karena citra Indonesia merosot di mata internasional.
Segala kritik terus menghantam Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Bahkan Menpora Andi Mallarangeng terpaksa berurusan dengan bidang hukum sebagai saksi perkara korupsi yang menjerat Sekretaris Menpora Wafid Muharram.
Cercaan tidak hanya datang dari masyarakat umum, tapi juga anggota DPR yang meragukan kinerja Menpora maupun KOI sebagai penanggung jawab teknis pelaksanaan. Tentu dampak langsungnya dirasakan para atlet kita yang tidak dapat secara leluasa menggunakan arena lomba sesuai jadwal.
***
Seorang pelaut tangguh tak akan surut menghadapi badai besar. Biar bagaimanapun, SEA Games di Palembang-Jakarta, 11-22 November, harus jalan sesuai jadwal yang telah disepakati. Sebelas negara kontestan pun menyatakan siap berpartisipasi walau tidak sepenuhnya sempurna.
Sebagai Negara terkemuka di Asia Tenggara, Indonesia tetap optimistis bahwa badai mampu dilalui. Ketika merebut kemerdekaan, negeri ini dengan bermodalkan bambu runcing saja mampu mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Dengan kebersamaan dan semangat juang, maka status terbaik akan dapat direbut.
Memang, sejak 1989 Indonesia mengalami dekadensi yang parah. Dapat dimaklumi karena sedang mengalami kemelut politik. Setelah berlalu 13 tahun, sejatinya kita sudah bangkit dan mengembalikan citra bahwa Indonesia adalah negara terbesar dan paling tangguh di Asia Tenggara.
Kebesaran Indonesia di kancah olah raga bukan cerita kosong. Sejarah mencatat bahwa kita tetap yang terkuat sejak ambil bagian di SEAG pada 1977. Dari 17 kali ambil bagian, sembilan kali gelar juara umum adalah milik Indonesia. Bandingkan dengan Thailand yang baru lima kali juara umum, Malaysia, Filipina dan Vietnam masing-masing satu kali.
Belum ada ceritanya Indonesia gagal menjadi pengumpul medali emas terbanyak tatkala menjadi tuan rumah. Tiga kali pelaksana SEAG di Jakarta pada 1979, 1987 dan 1997, bahkan berhasil mengumpulkan 50 persen medali emas.
Tahun ini memang sangat khusus. Belum pernah sebelumnya kasus korupsi menjadi warna dominan menjelang pelaksanaan peran tuan rumah. Seberapa buruk dampak yang ditimbulkan kasus korupsi yang dimotori Nazaruddin akan menjadi bumbu ketegangan ekstra.
***
Wakil Presiden Boediono menyatakan optimismenya bahwa predikat juara umum akan kita raih. Wajar dong seorang pemimpin bangsa bersikap seperti itu. Kita berharap semoga Boediono bukan sekadar mendapat masukan seadanya dari para stafnya, tapi juga mengikuti perkembangan olah raga Indonesia sesungguhnya.
Sebagai negara besar dan kaya, walau belum merata bagi masyarakat, sejatinya kita tak lagi bicara lingkup regional. Pantas dan harus lebih tinggi ke tingkat kontinental dan bahkan dunia. Sekali lagi, ini bukan retorika sebab Indonesia sudah masuk daftar peraih medali emas Olimpiade.
Karena Indonesia mengalami banyak persoalan ekonomi dan politik, tidak apalah memulai dari bawah lagi. Menjadi pengumpul emas terbanyak di Asia Tenggara akan menjadi pijakan melompat ke jenjang lebih tinggi. Dengan catatan, tidak boleh terjebak semata menang, tapi dengan cara elegan dan rekor.
Kontingen Indonesia mengirimkan 1.582 orang dengan komposisi 1.059 atlet, 393 ofisial, dan 130 pendukung. Kekuatan besar ini memikul target membawa pulang 155 emas dari total 545 emas.
Berlebihankah target yang dicetuskan Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), Tono Suratman? Menurut saya, itu sangat wajar. Walau banyak mengalami kendala, faktor tuan rumah dan kesiapan lebih matang merupakan keunggulan atlet Indonesia.
Jargon sukses sebagai tuan rumah dan prestasi bagi saya sudah basi. Alangkah lebih membanggakan bila atlet lebih ditempa dan didorong mengejar rekor ketimbang sekadar medali. Atlet wajib melihat jenjang persaingan lebih tinggi, misalnya Asian Games dan Olimpiade.
Adanya janji bonus uang dalam jumlah besar dari pemerintah dapat menjadi bumerang. Negatif, ketika tampil seadanya untuk mengamankan medali emas sehingga tak tampil maksimal di nomor terukur. Positif, ketika tampil all out menghadapi lawan yang kualitasnya lebih tinggi.
Selamat berlaga para pahlawan olah raga Indonesia. Menjadi atlet nasional saja sudah sangat membanggakan. Lebih hebat lagi kalau dilengkapi prestasi medali emas internasional. Kesempatan itu ada di SEA Games, karena itu mari buktikan!

No comments: