Pertanyaan akan kemungkinan nasib tim asuhan Rahmad Darmawan di Grup A sudah letih untuk dijawab. Kata-kata kuncian saya adalah: "Ketika sudah melangkah masuk medan pertempuran, jangan lagi memilih lawan."
Apakah tim nasional Indonesia U-23 akan menambah jumlah perbendaharaan trofi juara SEA Games, yang hanya dua (1987 dan 1991), untuk menyaingi "koleksi masalah" yang terus bertambah di kantor PSSI? Semoga!
Kali ini saya lebih tertarik mencermati reaksi masyarakat terhadap kondisi sepak bola kita. Sebuah majalah pemasaran di Tanah Air baru-baru ini memunculkan hasil penelitiannya.
Benarkah sepak bola kita sudah menjadi industri yang menarik bagi pemasar di Tanah Air? Dengan kisruh yang tak kunjung menunjukkan titik terang penyelesaiannya, siapa yang mau memasarkan produknya memakai jasa sepak bola Indonesia?
Di laga pembuka Indonesian Premier League (IPL) 2011/12, Persib Bandung dengan gagah menunjukkan daya pikat mereka terhadap para sponsor. Tim kebanggaan warga Bandung itu disebut telah mengantongi 17 miliar rupiah dari logo-logo perusahaan yang menempel di jersey para pemain.
Lalu, kapan lagi para sponsor itu melihat Persib memeragakan logo mereka dalam pertandingan resmi? Bukankah para pemasar itu memakai Persib karena rutinitas dan keikutsertaan mereka di ajang yang menarik minat banyak masyarakat Indonesia?
Singkat kata, uang sebanyak 17 miliar rupiah itu bukan ditujukan untuk sekali tampil dan sesudahnya menanti kepastian. Karena itu, saya berkernyit membaca kesimpulan bahwa sepak bola Indonesia saat ini sangat menarik minat para pemasar.
Majalah itu berkonklusi, "Perang pemasaran IPL dan ISL berpotensi membuka jalan bagi terbentuknya industri sepak bola yang maju."
Sang penulis mengambil kesimpulan begini, "Logikanya, semakin banyak pertandingan, semakin banyak hiburan bagi masyarakat dan semakin banyak pula tontonan sepak bola di layar kaca. Semakin banyak kompetisi, semakin ramai pula brand yang mensponsori klub atau liga."
Tentu sudut pandangnya adalah dari sisi ekonomi. Pertikaian sepak bola Indonesia yang memungkinkan munculnya kembali dua liga di level teratas dianggap menguntungkan penyelenggara kompetisi, klub, para sponsor, dan stasiun TV, hingga warung atau usaha kecil yang berkeliaran di sekitar stadion.
Buset dah! Kata ini langsung terlontar dari mulut saya. Bagaimana mungkin semua kehidupan disorot memakai kaca mata ekonomi? Apakah "kaca mata kebenaran" sudah sedemikian langka dan mahal untuk diperoleh di negara ini? Bagaimana dengan aturan yang menjadi rel perjalanan sepak bola itu sendiri?
Menarik untuk mengingat ucapan Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat ketiga, yang menekankan bahwa kebenaran adalah bagian dari moralitas dan sangat penting kehadirannya di dalam masyarakat.
Melalui Weekend Story terdahulu, saya pernah menyinggung soal teori kaca mobil. Salah satu penyebab kericuhan di panggung sepak bola kita adalah akibat ukuran kaca spion yang jauh lebih besar daripada kaca depan mobil.
Banyak pihak yang terlalu besar memberikan perhatian kepada masa lalu, dan berjalan dengan menenteng tas berisi dendam. Pembusukan karakter pihak yang berbeda sikap dianggap sebagai tindakan wajar.
Saya tak bisa membayangkan Sheikh Abdullah Bin Nassar Al-Thani dari Qatar mengucurkan dana sebesar 36 juta euro (Rp 443 miliar) guna mengambil alih kepemilikan klub Malaga di Spanyol dari Fernando Sanz hanya untuk melihat ketidakpastian timnya berkompetisi.
Musim panas 2011, Malaga sudah mengeluarkan biaya mencapai 58 juta euro, lebih dari Rp 712 miliar, untuk membangun tim baru. Bukan gelar juara, namun target awal adalah menempatkan Malaga di level elite sepak bola Spanyol. Setidaknya berdiri di dekat aroma harum Barcelona dan Real Madrid.
Pertarungan televisi nasional untuk memiliki hak siar Liga Indonesia harus diakui menunjukkan daya pikat sepak bola kita.
Hasil survei sebuah badan yang berkantor di Rawamangun, Jakarta, menyebut angka 50,8% minat masyarakat kita menyaksikan siaran sepak bola Indonesia. Jumlah itu mengalahkan tayangan Premier League (20,6%), La Liga (3,4%), dan Serie A (2,4%).
Survei dilakukan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden 1.200 orang yang telah berusia 17 tahun atau menikah.
Menyimak hasil jajak pendapat yang dilaksanakan pada 12-20 Oktober 2011 itu, tak salah memang bila majalah pemasaran itu memiliki kesimpulan atas nilai jual sepak bola Indonesia. Seharusnya, sponsor-sponsor Liga Indonesia dengan mudah mengeluarkan uang jauh lebih banyak dari keberanian penopang tayangan Premier League di televisi Tanah Air.
Menjadi tuan rumah di negara sendiri adalah impian kita semua. Tapi untuk mewujudkan kondisi idaman itu, alangkah baiknya bila kita mengembalikan porsi dan peran kaca spion, meninggalkan tas dendam, serta mengenakan kaca mata kebenaran. #
No comments:
Post a Comment