Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Friday, October 7, 2011

Suarez dan Rekor Copa America














Luis Suarez adalah pemain paling kontroversial di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Dalam waktu bersamaan, ia menjelma antara setan atau malaikat, tergantung dari sudut mana memandangnya.
Menit akhir extra time perempat final pada 2 Juli antara Uruguay vs Ghana di Johannesburg sangat menegangkan. Kedudukan 1-1. Suarez melakukan "tindakan kotor" menahan bola dengan tangan yang seharusnya 99 persen gol.
Kartu merah untuk Suarez. Ghana siap berpesta untuk pertama kali maju ke semifinal Piala Dunia. Asamoah Gyan mengambil tendangan penalti. Sayang, tidak terjadi gol sehingga dilanjutkan dengan adu penalti. Dewi fortuna milik Uruguay dengan skor 4-2.
Pelatih Uruguay, Oscar Washington Tabarez Silva, membela anak buahnya. Menurutnya, apa yang dilakukan Luis hanya merupakan tindakan instingtif tanpa niat mencederai fair play.
Apa pun hujatan bagi pembelaan tim The Celeste, yang jelas sudah membawa kebahagiaan bagi negeri berpenduduk 3,5 juta itu. Hasil ini sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa mereka pantas menjadi salah satu negara yang telah bangkit dari kejayaan lama.
Uruguay memang negara kecil di Amerika Selatan, tapi memiliki sejarah panjang dan terhormat di belantika sepak bola dunia. Uruguay adalah negara pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 1930 dan telah dua kali menjadi kampiun, 1930 dan 1950.
***
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, nama Luis Suarez tentu sangat akrab. Pada 8 Oktober tahun lalu, Luis dan kawan-kawan pamer kepiawaian bermain bola di Stadion Utama Senayan melawan Tim Merah-Putih.
Pertandingan sangat menarik. Para pemain Uruguay bertanding dengan serius dan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya menghadapi Bambang Pamungkas cs. Karena memperagakan kemampuan terbaiknya, Uruguay unggul telak dengan skor 7-1.
Penonton merasa puas. Sayang, ketika itu Diego Forlan, bintang Atletico Madrid, tidak ikut ambil bagian melengkapi kegemerlapan negeri pimpinan Presiden Jose Mujica itu. Hasil akhir tak perlu kita keluhkan karena itu adalah buah persaingan antarpemain untuk mematrikan status pilihan utama.
Sepak bola adalah hiburan yang mengandung makna sangat luas. Di dalamnya bersemayam kompetisi antarteman guna melahirkan hasil terbaik. Ada perebutan posisi berbanding lurus dengan sisi komersial yang dapat meningkatkan nilai kontrak berlabel mahal.
Keseriusan dan harapan untuk menggapai prestasi lebih baik. Itulah yang terus dikobarkan Tabarez. Pelatih kelahiran Montevideo, 3 Maret 1947 itu tidak menyukai perombakan besarbesaran. Ia cenderung mempertahankan kerangka tim inti agar dapat memompa kekompakan tim.
Berhasil masuk semifinal Piala Dunia 2010 dianggap sebagai buah kerja keras, bukan karena faktor keberuntungan semata. Tim inilah yang terus dibenahi dan ditingkatkan menuju Copa America 2011 menghadapi tim matang semacam Argentina.
Pengalaman segudang dan ketajaman analisis membuat Tabarez semakin dihormati pemain. Mantan bek Bella Vista ini telah berkarya di berbagai negara seperti Kolombia, Argentina, Italia, dan Spanyol. Itulah yang membuatnya semakin memahami kultur dan karakter pemain negara lain.
Mencapai hasil terbaik tidak ada yang instan. Bukan untuk melegalisasi prinsip try and error, tapi memaknai bahwa kegagalan bukan akhir dari segala harapan. Lihatlah, jabatan yang sama pernah dipegang dalam persiapan Piala Dunia 1990 tapi tidak berhasil.
Pada kesempatan kedua jabatan yang dipangku Tabarez sejak 2006 ternyata memberi hasil menggembirakan.
***
Saat lolos dari babak penyisihan Grup B sebagai runner-up, Uruguay harus menghadapi tuan rumah Argentina. Bagaimana ceritanya dapat mengatasi tuan rumah yang dihuni para pemain terbaik dunia dengan pengalaman di kompetisi Eropa?
Mana mungkin menghentikan geliat lincah pemain terbaik dunia, Lionel Messi, dan ketajaman Kun Aguero atau Gonzalo Higuain? Bagaimana caranya melewati keganasan Javier Mascherano di posisi gelandang?
Tim petarung yang sudah membuktikan kelas tak akan pernah takut. Terbukti perebutan tiket semifinal Copa America 2011 berhasil direnggut Uruguay. Tuan rumah dibuat menangis menerima kekalahan walau lewat kegagalan Carlos Teves saat adu penalti. Betul-betul please cry for Argentina.
Ketika hadangan terberat sudah dilewati, maka langkah menuju tangga juara semakin terbuka, asal tidak terjebak over confidence. Peru, yang mencoba membunuh ambisi Uruguay, sudah ditebas di semifinal dengan skor 2-0.
Final. Sejarah akan diukir Luis Suarez cs. Uruguay akan tercatat sebagai negara terbanyak menjadi juara 15 kali, melewati satu angka dari Argentina bila pada final Minggu (24/7) berhasil mengatasi pemenang antara Paraguay dan Venezuela.
Apa yang dihasilkan Tabarez dan pasukannya membuktikan banyak hal. Keberhasilan harus diperjuangkan secara bersama dan saling mendukung dalam waktu yang memadai. Sulit mengharapkan hasil maksimal jika terlalu sering melakukan perombakan yang tidak perlu.
Merupakan pelajaran berharga dari sikap dan perangai para pemain Uruguay. Bertanding atas nama negara menjadi kebanggaan bagi para bintang. Suarez, pemain Liverpool pindahan dari Ajax, menghadapi keletihan luar biasa, tapi untuk Uruguay, ia tak kenal lelah.
Kemeriahan pesta sepak bola Copa America semakin mendekati akhir. Sejarah apa yang akan tercipta, mari kita tunggu. Aksi Suarez memang patut disaksikan!

No comments: