Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Monday, October 3, 2011

Sepak Bola Merah-Putih





“Bola dibawa Carvalho ke tengah, di sana sudah menunggu Ronaldo… menggiring bola dia, satu, dua, tiga lawan dilewati, bola diberikan kepada Quaresma… bola dikembalikan ke Ronaldo, ditendang… dan goooooolll.”
Baru-baru ini saya mengunjungi sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur. Salah satu kesan mendalam adalah ketika menyaksikan sejumlah anak kecil di Kecamatan Atapupu, daerah perbatasan dengan negara baru, saudara yang melepaskan diri dari NKRI, Timor Leste.
Di pinggir pantai yang belum dijamah demi mengundang kehadiran turis, gerombolan anak itu menarik perhatian karena baju yang mereka kenakan. Dua hari saya bolak-balik Atambua dan Atapupu, jersey yang menyerupai kostum tim nasional Portugal paling sering saya lihat.
Melihat banyaknya rumah-rumah gubuk di pinggir jalan sepanjang Atambua dan Atapupu, tak heran bila jersey merah hati yang biasa kita lihat dikenakan Cristiano Ronaldo menjadi kostum kebanggaan para pengungsi Timor Timur sejak tahun 2000. Ya, anak-anak itu mungkin tak mengerti pilihan orang tuanya menjadi warga negara Indonesia, namun mereka masih punya ikatan dengan Timor Leste, begitu wilayah yang dahulu menjadi provinsi ke-27 Indonesia.
Tentu saja pengaruh orang tua anak-anak itu berpengaruh besar kepada pahlawan-pahlawan sepak bola bocah-bocah di daerah perbatasan tersebut. Dari Bupati Belu, Joachim Lopez, saya mendapat banyak cerita soal para pengungsi Timor Timur dan pilihan mereka kepada Merah-Putih.
Dengan penuh rasa penasaran, saya dekati anak-anak yang bermain bola plastik tanpa alas kaki di tepi pantai Atapupu itu. Masih kuat dalam ingatan saya bagaimana dialek dan gaya mereka menyebutkan nama pemain-pemain Portugal itu. Sesungguhnya mereka lebih percaya diri memakai bahasa Tetum, yang berarti sahabat, namun tampaknya mereka mencoba menarik perhatian tamu seperti saya.
“Kenapa semua yang disebut pemain Portugal? Kok enggak ada pemain yang lain?” Pertanyaan saya sebenarnya belum selesai karena menunggu reaksi mereka. Bila pilihan orang tua bocah-bocah itu bergabung bersama Merah-Putih, istilah yang dipakai untuk menyebutkan Indonesia, saya tertarik mengetahui sejauhmana kedekatan mereka dengan Bambang Pamungkas, Firman Utina, atau Ahmad Bustomi.
Tak seperti yang saya duga, bocah-bocah yang dengan lincah mengolah bola plastik itu, tak tertarik menjawab pertanyaan saya. “Ronaldo lebih hebat om,” begitu salah satu anak menjawab dengan asal. Tentu dengan logat mereka yang khas.
Adalah perbuatan bodoh bila di hadapan mereka saya bertanya soal perbandingan kehebatan pemain sekelas Ronaldo dengan pesepak bola kita. Jujur, saya hanya ingin tahu seberapa dekat bocah-bocah di perbatasan itu dengan pemain Indonesia. Tidakkah perhelatan Piala AFF 2010 meninggalkan kesan mendalam di benak mereka?
Kebanyakan para pengungsi dari Timor Timur yang “menghiasi” pinggir jalan di Atapupu dan Atambua bekerja menjual kayu bakar atau menjadi nelayan. Sial, banyak dari mereka yang menebang sembarang pohon demi menghidupi keluarga atau membangun gubuk tempat tinggal di tanah milik orang lain. Walau Pemerintah Daerah NTT mencoba merangkul mereka, program pemberdayaan pengungsi Timor Timur belum bisa disebut sukses.
Dari sejumlah cerita warga di Atapupu, muncul kesan bahwa banyak warga pengungsian itu menyesal telah memilih Merah-Putih karena merasa ditelantarkan oleh pemerintah setempat. Penduduk asli Atapupu lebih memilih kata “manja dan minta diistimewakan” menyebut karakter tetangga baru mereka itu.
Tapi para pengungsi itu tak mungkin kembali ke Timor Leste karena cap “pengkhianat” sudah dipatri oleh warga yang memilih memisahkan diri dari Indonesia ketika terjadi referendum tahun 1999.

Pusat dan Peduli

Apakah pilihan terhadap Merah-Putih sebagai negara yang melindungi warga eksTimor Timur tidak diikuti oleh kecintaan terhadap tim nasional Indonesia? Ingin sekali rasanya suatu waktu kembali ke Atapupu dan melihat pantai yang jauh lebih bersih dan tertata bersama bocah-bocah bermain sepak bola di atas pasir sambil mengenakan tiruan jersey Tim Garuda dan menyebutkan sejumlah pemain nasional sebagai tokoh idolanya.
Bila kepada Anda ditanyakan siapa pesepak bola Indonesia terkenal yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, apakah dengan cepat menyebutkan satu nama? Walau tidak menonjol sebagai penyuplai anggota tim nasional seperti dari Medan, Makassar, Surabaya, Bandung, hingga Malang, sesungguhnya pencinta sepak bola di wilayah ini tak kalah banyak dari sentra-sentra sepak bola nasional.
Saya tak menyinggung masalah bakat, namun perhatian orang pusat, begitu mereka menyebut pengurus teras federasi sepak bola Indonesia (PSSI), sangat minim dalam mengembangkan olah raga ini. Masalah prioritas karena anggaran yang terbatas atau karena hadangan bakat dan keseriusan pemuda setempat?
Kembali ke bocah-bocah tadi. Tidakkah muncul keheranan di benak Anda ketika mereka tidak akrab dengan nama-nama punggawa Tim Merah-Putih? Persoalan keterbatasan keluarga yang memiliki televisi tidak bisa dijadikan alasan karena banyak rumah yang memiliki antena parabola di sana. Menonton sepak bola di televisi milik tetangga adalah hal lazim.
Dalam sebuah jamuan makan malam di Atapupu, beberapa pria dewasa setempat menghampiri saya dan mengubah topik pembicaraan saya sebelumya dengan saudara dari Atambua. Mereka bertanya ada apa dengan PSSI dan kapan masalah pemilihan ketua organisasi itu bisa selesai?
Hmm, mereka yang setiap hari bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarga masih punya kepedulian terhadap persoalan federasi sepak bola kita. Perbincangan santai berubah menjadi serius dan jawaban yang hati-hati dari saya agar mereka bisa memahami situasi seputar PSSI. Setidaknya dari sudut pandang seorang pekerja berita di dunia sepak bola.
Di akhir pembicaraan, saya hanya berharap ketika di pusat warna sepak bola Indonesia masih menunggu pertarungan kuning dan biru, alangkah eloknya bila Merah-Putih menjadi warna kebanggaan bocah-bocah putra Tanah Air di mana pun mereka berada. #

No comments: