***
Perdebatan lolos ke putaran 10 besar Asia memperebutkan tiket Piala Dunia sudah selesai. Secara matematis memang masih terbuka lolos sebagai runner-up jika memenangi tiga pertandingan sisa. Secara logika, hal itu kurang relevan. Lihatlah, berlaga di grup E zona Asia, Indonesia bersama Iran, Bahrain, dan Qatar. Bambang Pamungkas cs. berlaga tiga kali dan semuanya kalah.Dua kali main di Jakarta, timnas kita kalah dari Bahrain 0-2 dan Qatar 2-3. Satu lagi main di Iran kita kalah 0-3. Melihat realitas ini, apa masih mungkin menang di kandang lawan? Tiga pertandingan lagi: vs Qatar (11 November), vs Iran (15 November) dan vs Bahrain (29 Februari 2012). Sebagai pelatih timnas, Wim Rijsbergen mau bersikap seperti apa? Haruskah pelatih asal Belanda ini tetap ngotot dengan tim yang sekarang? Atau memanfaatkan momentum ini untuk melakukan peremajaan dengan memberi kesempatan kepada pasukan muda di luar timnas U-23 SEA Games?
Sikap bijak dan cerdas dari pengurus PSSI sangat dituntut. Apalagi dalam waktu berdekatan tengah bergulir Liga Indonesia. Kegiatan besar dengan target besar juga berlangsung di kancah SEA Games.
Ada baiknya Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, bersikap tegas. Mengalihkan perhatian membangun timnas U-23 yang kuat guna memenuhi target merebut emas SEAG. Jika timnas senior merasa terpinggirkan, itu memang sebuah konsekuensi logis. Masih sangat banyak tugas yang harus dibereskan Djohar cs. Lihatlah bagaimana persiapan kick-off Liga Indonesia yang sangat membingungkan. Pembukaan ditetapkan 15 Oktober, tapi sesungguhnya segala unsur pendukung belum siap.
Verifikasi stadion oleh AFC terkesan asal-asalan. Memang dilematis, sebab jika standar kelayakan diterapkan, maka dapat dipastikan tidak sampai 25 persen stadion layak memutar kompetisi Liga Pro 1. Hal yang paling membuat dahi berkerut adalah keputusan PSSI memutar kompetisi dengan 24 klub peserta. Sudah pasti kompetisi berjalan lebih dari satu tahun.
Risiko dari molornya kompetisi berdampak langsung pada biaya yang membengkak. Risiko lainnya, jadwal internasional menjadi serba-tidak pasti. Yang juga memusingkan adalah roster liga satu musim belum lengkap.
Inilah tugas berat Djohar di tahun pertama menjadi pilot PSSI. Banyak tuntutan untuk ditangani segera. Karena itu, kualitas pengurus PSSI digugah untuk segera bersikap first things first.
***
Dampak buruk kekalahan timnas Indonesia dari Bahrain sudah kita rasakan. Penonton menghukum timnas dengan tidak antusias datang lagi ke stadion tatkala melawan Qatar. Sedemikian gampang warga kita mengambil arah berbelok. Mendukung atau mencela semudah membalikkan telapak tangan. Kondisi ini merugikan olah raga Indonesia pada umumnya yang berdampak merosotnya dukungan moral dan materil.Bagaimana dengan SEA Games? Kurang dari satu bulan, tapi cerita yang menonjol masih seputar kesiapan. Sejatinya pers sudah masuk tahap promosi pertandingan dengan tulisan berseri seputar rekor dan peluang meraih medali emas.
Sejujurnya kita ingin melupakan musibah berbau korupsi. Tapi, siapa yang tidak sebal dengan pencurian uang pembangunan Wisma Atlet SEAG yang melibatkan sekretaris jenderal Menpora, Wafid Muharam. Ulah politikus Partai Demokrat, M. Nazaruddin, menjadi biang kerok. Efek ulah Nazaruddin ini betul-betul memalukan bangsa ini. Rencana membangun citra baik malah mengundang rasa malu.
Situasi sekarang ini membuat kita sulit berharap sukses pelaksanaan dan prestasi. Menpora Andi Mallarangeng seharusnya berkonsentrasi penuh mendukung persiapan SEAG yang menghabiskan banyak dana, tapi malah waktunya tersedot menjadi saksi bagi kasus korupsi.
Kalau untuk sekadar menjadi juara umum, rasanya itu bukan sesuatu yang mustahil. Bagi saya, tujuan yang jauh lebih berharga adalah catatan prestasi dari setiap atlet. Harus lebih lebih baik dari sebelumnya. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara dan nomor empat di dunia, sejatinya berpikir jauh ke depan. Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi penguasa regional.
Tantangan tidak akan pernah berakhir, selalu banyak mengantre di depan. Yang paling dekat memang SEAG, tapi kita tidak boleh lupa bicara dalam konteks besar: Olimpiade London 2012. Indonesia mencatatkan diri dalam daftar peraih medali sejak Olimpiade Seoul 1988. Trio pepanah: Lilies Handayani, Nurfitriyana, Kusuma Wardhani, berhasil merebut medali perak.
Setelah itu, reputasi atlet Indonesia meningkat. Bulu tangkis mempersembahkan medali emas di Olimpiade Barcelona 1992, Atlanta 1996, Sydney 2000, Yunani 2004, dan Beijing 2008. Tradisi medali emas terus dipertahankan.
Bagaimana tahun depan? Jangan sampai Indonesia mencatat reputasi terburuk dengan gagal mempertahankan medali emas Olimpiade.
Tidak ingin gagal? Berpikir dan bekerja keraslah mulai hari ini!
No comments:
Post a Comment