Derby Manchester, penampilan menjanjikan Juventus dalam menebus masa-masa terburuk di Serie A, David Beckham, hingga undian SEA Games dan Irfan Bachdim.
Inilah kumpulan cerita yang menghiasi perjalanan hidup saya seminggu terakhir. Bahwa sepak bola merupakan panggung drama kehidupan tercermin dari kisah-kisah sejumlah tokoh atau kejadian di atas.
Ketika masih duduk di Sekolah Dasar, setiap kali Muhammad Ali bertanding, selalu saja aktivitas siswa mendapatkan "variasi pembelajaran". Semua, termasuk para guru, menunggu taktik dan bukti bualan yang dilontarkan Ali sebelum duel.
Saya mengibaratkan Sir Alex Ferguson sebagai Muhammad Ali di panggung sepak bola. Bila Ali menyingkirkan nama-nama tenar seperti Joe Frazier, George Foreman, hingga Ken Norton, Sir Alex bisa berdiri angkuh di hadapan Arsene Wenger, Carlo Ancelotti, atau Rafael Benitez.
Ketika Ali berhasil membalas kekalahan dari Leon Spinks, Sir Alex tetap kokoh walau sempat diganggu Jose Mourinho.
Sampai kapan Sir Alex menguasai singgasana sepak bola Inggris dan seolah kini lebih fokus mengejar kejayaan Barcelona di Eropa? Well, saya melihat kehadiran Roberto Mancini bak sosok Larry Holmes.
Pada 2 Oktober 1980, Larry Holmes yang tak diunggulkan menundukkan Ali dengan TKO di ronde ke-10. Kebesaran Muhammad Ali tercoreng. Ia semakin terpuruk ketika setahun kemudian Trevor Berbick kembali berhasil mengatasi petinju berjulukan The Greatest itu.
Itulah kekalahan kelima Ali dalam kariernya. Catatan 56 kali kemenangan dari 61 pertandingan menyisakan Ali sebagai legenda utama tinju dunia.
Apakah musim ini menjadi momentum bagi Mancini membawa Manchester City meruntuhkan kejayaan Sir Alex di istana Manchester United?
Saya membayangkan Mancini berkata, "Semua akan indah pada waktunya."
Entah ucapan ini dilontarkan dengan senyuman di Old Trafford atau melalui ekspresi muka penasaran karena masih gagal mendongkel kenyamanan Sir Alex.
Bagaimana dengan Juventus? Nyaris setiap minggu sejak Serie A 2011/12 digelar datang permintaan prediksi tentang La Vecchia Signora, pemilik 27 gelar juara Liga Italia.
Setelah terlempar ke Serie B untuk pertamakali dalam sejarah akibat kasus pengaturan hasil pertandingan (calciopoli) di musim 2005-06, perlahan Juventus menapak ke level atas sepak bola Italia dengan menjuarai Serie B 2006/07.
Kini, kesetiaan Alessandro Del Piero membawanya berdiri tegak di klasemen Serie A dan melihat dua pesaing utama, Milan dan Internazionale, berjuang melepaskan diri dari lembah klasemen.
Walau disebut dirinya tak lagi menjadi pilihan utama klub akibat usia yang sudah mencapai 36 tahun, kita pantas menunggu ucapan Del Piero, "Semua akan indah pada waktunya."
Nama David Beckham muncul seiring rencana kehadiran Los Angeles Galaxy ke Tanah Air pada November 2011. Pria Inggris berusia 36 tahun itu tak kehilangan karisma dan daya tarik walau memilih berkompetisi di Amerika Serikat bersama Galaxy.
Bila Tottenham Hotspur dan Paris Saint-Germain sangat tertarik meminang suami Victoria Adams itu, masyarakat Indonesia tak sabar ingin menyaksikan umpan-umpan maut Beckham.
"Bung, benarkah Beckham akan datang bersama LA Galaxy?"
Pertanyaan dari seorang pengagum Becks saya coba jawab dengan sesuatu yang menyejukkan, "Sabar saja menunggu kepastian beritanya. Semua akan indah pada waktunya."
Jujur, saya tak punya jawaban yang memastikan rencana Beckham November nanti saat LA Galaxy datang berkunjung.
Nah, dua hal lagi membuat pertanyaan pembaca BOLA seperti ujian akhir bagi saya. Bisakah tim nasional Indonesia lolos dari Grup A SEA Games 2011 ketika di sana ada Malaysia, Singapura, dan Thailand?
Tim bermental juara memang tidak takut menghadapi siapapun. Namun sebagai tuan rumah, benarkah strategi kita memilih satu grup dengan juara bertahan Malaysia karena alasan bermain di Stadion Gelora Bung Karno?
Ah, seandainya kita memiliki dua stadion sekelas SGBK di Jakarta, tentu variasi strategi dalam undian lebih memudahkan pekerjaan pelatih Rahmad Darmawan.
Well, pertanyaan saya kemudian muncul berdasarkan hubungan buruk PSSI dengan pendukung Persija belakangan ini. Semoga saja aksi boikot hadir di stadion dan memilih mendukung timnas melalui layar kaca tidak berlanjut hingga SEA Games.
Walau bukan hanya Jakmania pendukung timnas di Ibu Kota, kehadiran mereka sangat dibutuhkan Rahmad Darmawan sebagai bagian dari pemain ke-12.
Akan terasa hampa bila SGBK, yang biasanya menampung 80 ribu lebih pendukung timnas, hanya dikunjungi 30 ribu penonton yang menemani perjuangan Yongki Aribowo dkk.
Bagaimana dengan kasus Irfan Bachdim yang dicoret dari tim U-23 menuju SEA Games 2011?
Saya hanya punya perumpaan memakai kentang, telur, dan biji kopi. Ketika ketiganya direbus memakai air mendidih (pengalaman hidup), kentang yang keras berubah menjadi lembek. Telur yang tadinya lembut dan hati-hati menjadi keras di dalamnya.
Kopi? Hmm, ia memberi kita aroma wangi dan kenikmatan.
Semua opsi kembali kepada kita hendak menjadi kentang, telur, atau kopi. Bila pilihan kita tepat, bukankah semua itu akan indah pada waktunya? #
Inilah kumpulan cerita yang menghiasi perjalanan hidup saya seminggu terakhir. Bahwa sepak bola merupakan panggung drama kehidupan tercermin dari kisah-kisah sejumlah tokoh atau kejadian di atas.
Ketika masih duduk di Sekolah Dasar, setiap kali Muhammad Ali bertanding, selalu saja aktivitas siswa mendapatkan "variasi pembelajaran". Semua, termasuk para guru, menunggu taktik dan bukti bualan yang dilontarkan Ali sebelum duel.
Saya mengibaratkan Sir Alex Ferguson sebagai Muhammad Ali di panggung sepak bola. Bila Ali menyingkirkan nama-nama tenar seperti Joe Frazier, George Foreman, hingga Ken Norton, Sir Alex bisa berdiri angkuh di hadapan Arsene Wenger, Carlo Ancelotti, atau Rafael Benitez.
Ketika Ali berhasil membalas kekalahan dari Leon Spinks, Sir Alex tetap kokoh walau sempat diganggu Jose Mourinho.
Sampai kapan Sir Alex menguasai singgasana sepak bola Inggris dan seolah kini lebih fokus mengejar kejayaan Barcelona di Eropa? Well, saya melihat kehadiran Roberto Mancini bak sosok Larry Holmes.
Pada 2 Oktober 1980, Larry Holmes yang tak diunggulkan menundukkan Ali dengan TKO di ronde ke-10. Kebesaran Muhammad Ali tercoreng. Ia semakin terpuruk ketika setahun kemudian Trevor Berbick kembali berhasil mengatasi petinju berjulukan The Greatest itu.
Itulah kekalahan kelima Ali dalam kariernya. Catatan 56 kali kemenangan dari 61 pertandingan menyisakan Ali sebagai legenda utama tinju dunia.
Apakah musim ini menjadi momentum bagi Mancini membawa Manchester City meruntuhkan kejayaan Sir Alex di istana Manchester United?
Saya membayangkan Mancini berkata, "Semua akan indah pada waktunya."
Entah ucapan ini dilontarkan dengan senyuman di Old Trafford atau melalui ekspresi muka penasaran karena masih gagal mendongkel kenyamanan Sir Alex.
Bagaimana dengan Juventus? Nyaris setiap minggu sejak Serie A 2011/12 digelar datang permintaan prediksi tentang La Vecchia Signora, pemilik 27 gelar juara Liga Italia.
Setelah terlempar ke Serie B untuk pertamakali dalam sejarah akibat kasus pengaturan hasil pertandingan (calciopoli) di musim 2005-06, perlahan Juventus menapak ke level atas sepak bola Italia dengan menjuarai Serie B 2006/07.
Kini, kesetiaan Alessandro Del Piero membawanya berdiri tegak di klasemen Serie A dan melihat dua pesaing utama, Milan dan Internazionale, berjuang melepaskan diri dari lembah klasemen.
Walau disebut dirinya tak lagi menjadi pilihan utama klub akibat usia yang sudah mencapai 36 tahun, kita pantas menunggu ucapan Del Piero, "Semua akan indah pada waktunya."
Nama David Beckham muncul seiring rencana kehadiran Los Angeles Galaxy ke Tanah Air pada November 2011. Pria Inggris berusia 36 tahun itu tak kehilangan karisma dan daya tarik walau memilih berkompetisi di Amerika Serikat bersama Galaxy.
Bila Tottenham Hotspur dan Paris Saint-Germain sangat tertarik meminang suami Victoria Adams itu, masyarakat Indonesia tak sabar ingin menyaksikan umpan-umpan maut Beckham.
"Bung, benarkah Beckham akan datang bersama LA Galaxy?"
Pertanyaan dari seorang pengagum Becks saya coba jawab dengan sesuatu yang menyejukkan, "Sabar saja menunggu kepastian beritanya. Semua akan indah pada waktunya."
Jujur, saya tak punya jawaban yang memastikan rencana Beckham November nanti saat LA Galaxy datang berkunjung.
Nah, dua hal lagi membuat pertanyaan pembaca BOLA seperti ujian akhir bagi saya. Bisakah tim nasional Indonesia lolos dari Grup A SEA Games 2011 ketika di sana ada Malaysia, Singapura, dan Thailand?
Tim bermental juara memang tidak takut menghadapi siapapun. Namun sebagai tuan rumah, benarkah strategi kita memilih satu grup dengan juara bertahan Malaysia karena alasan bermain di Stadion Gelora Bung Karno?
Ah, seandainya kita memiliki dua stadion sekelas SGBK di Jakarta, tentu variasi strategi dalam undian lebih memudahkan pekerjaan pelatih Rahmad Darmawan.
Well, pertanyaan saya kemudian muncul berdasarkan hubungan buruk PSSI dengan pendukung Persija belakangan ini. Semoga saja aksi boikot hadir di stadion dan memilih mendukung timnas melalui layar kaca tidak berlanjut hingga SEA Games.
Walau bukan hanya Jakmania pendukung timnas di Ibu Kota, kehadiran mereka sangat dibutuhkan Rahmad Darmawan sebagai bagian dari pemain ke-12.
Akan terasa hampa bila SGBK, yang biasanya menampung 80 ribu lebih pendukung timnas, hanya dikunjungi 30 ribu penonton yang menemani perjuangan Yongki Aribowo dkk.
Bagaimana dengan kasus Irfan Bachdim yang dicoret dari tim U-23 menuju SEA Games 2011?
Saya hanya punya perumpaan memakai kentang, telur, dan biji kopi. Ketika ketiganya direbus memakai air mendidih (pengalaman hidup), kentang yang keras berubah menjadi lembek. Telur yang tadinya lembut dan hati-hati menjadi keras di dalamnya.
Kopi? Hmm, ia memberi kita aroma wangi dan kenikmatan.
Semua opsi kembali kepada kita hendak menjadi kentang, telur, atau kopi. Bila pilihan kita tepat, bukankah semua itu akan indah pada waktunya? #
No comments:
Post a Comment