Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Friday, October 28, 2011

Diskusi Bikin Bingung di Hotel Nikko




 





Suatu waktu, wartawan kawakan yang kini mengelola acara talkshow TV One, Jakarta Lawyers Club (JLC), Karni Ilyas, angkat bicara. Ia bilang kriteria seorang pembawa acara di televisi harus muda, tampak segar, keren dengan intonasi suara yang terkendali.
Nah, berikutnya Karni dengan nada bangga mengatakan bahwa semua itu tak sepenuhnya benar. Ia member contoh dirinya sendiri. Ukuran normative soal wajah, sudah pasti tidak dapat nilai di atas angka enam. Suaranya pun terdengar serak dan tidak mengenakkan.
Lantas kenapa rating dan iklan JLC tinggi? Kita kembalikan pada prinsip dasar bahwa inti dari sebuah acara adalah: konten. Jika sebuah diskusi berbobot yang menyangkut hajat banyak orang, maka akan sendirinya disukai penonton.
Sorry, bukan mau menjatuhkan harga, fakta bicara bahwa Bang Karni memang sudah tua dan tak gagah lagi. Tapi, sejujurnya, JLC telah berhasil menarik perhatian publik dari berbagai lapisan. Karni dengan cerdas mengocok dan menggali informasi.
***
Saya sudah tiga kali menjadi narasumber di tengah-tengah para ahli hukum itu. Namun, sebanyak itu juga selalu kebagian mendiskusikan seputar sepak bola negeri kita yang dianggap penuh intrik dan patgulipat.
Jika boleh berkata jujur, sesungguhnya saya tidak ingin bicara seputar polemik PSSI. Kenapa? Karena ada baiknya kita memberi ruang dan waktu yang cukup kepada para pengurus guna menghasilkan karya terbaik melalui pemikiran cemerlang mereka.
Harapan besar kepada Djohar Arifin Husin untuk melahirkan organisasi dan kinerja maksimal rupanya baru sebatas keinginan. Dalam 100 hari kerja sejak terpilih menjadi pengurus baru PSSI, bukan mendorong pemain berprestasi, justru cerita pertengkaran yang menonjol.
Executive Committee yang berjumlah 11 orang adalah puncak piramida organisasi. Kelompok ini memegang kekuasaan penuh menggerakkan PSSI hendak dibawa ke mana. Sayang soliditas 11 orang Exco tidak tercapai, malah terkesan terpecah dua kelompok.
Menarik mundur sedikit ke belakang, para anggota Exco ini adalah Kelompok 78 yang sukses menggulingkan rezim Nurdin Halid. Ternyata, setelah memegang kekuasaan malah tidak berhasil menciptakan suasana kerja nyaman seperti diharapkan publik.
Bagaikan air dengan minyak, berada pada satu bejana tapi tidak dapat bersenyawa. Ego pribadi atau agenda tersembunyi? Mempertahankan kebenaran tanpa mau membuka diri terhadap pendapat orang lain, maka sampai kapan pun tim seperti ini tak akan memberi hasil baik.
Benturan sikap keras melawan prinsip kaku akan memakan korban. Bukan 11 tokoh ini yang tersandera, tapi pembinaan sepak bola Indonesi akan berantakan. Para pemain akan seperti ayam kehilangan induk yang pada akhirnya semakin sulit mengejar prestasi internasional.
***
Selasa (25/10) pada acara siaran langsung JLC, Karni dengan lihai berhasil menggali informasi rahasia. Saya sendiri bergidik mendengar betapa tidak fair-nya lagi para pembina mengambil kesepakatan saat pemilihan ketua di Kongres Luar Biasa di Solo, 9 Juli.
Anggota Exco dari Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti, mengaku Kelompok 78 ditawarkan satu miliar rupiah asal memilih Djohar. Lebih mengerikan lagi, setelah terpilih, maka usia jabatan mantan Sekjen KONI itu hanya 3-6 bulan, setelah itu dilakukan KLB lagi. La Nyalla secara gamblang juga menjelaskan bahwa  johar telah menabrak statuta PSSI. Contohnya adalah memasukkan 6 klub asal LPI ke kompetisi tertinggi Liga Indonesia di luar mufakat Exco. Di dalamnya terdapat Persma dan Persibo yang masih menjalani sanksi PSSI.
Anggota Exco lain, Harbiansyah Hanafiah, menolak keras pelaksana kompetisi diserahkan kepada PT LPIS yang sahamnya dipegang Djohar (70%) dan Farid Rahman (30%). Padahal, dalam kongres di Bali, pelaksana kompetisi diserahkan ke PT LI yang sahamnya 99 % punya klub dan PSSI 1 %.
Sandiwara apa ini? Sedemikian bobrokkah olah raga Indonesia?
Debat di depan kamera berakhir menjelang tengah malam. Irawadi, rekan saya mantan bendahara PSSI, mengajak makan nasi goreng kampung di hotel Nikko, tempat JLC, bersama bintang sinetron Anwar Fuadi. Kami bergabung dengan Harbiansyah dan kawan-kawan.
Untuk pertama kalinya saya bersalaman dengan La Nyalla. Ini kesempatan baik untuk mengetahui inside story. Banyak pelanggaran statuta yang dibicarakan dan kemudian memberi dokumen pendukung hasil kongres.
Pertanyaan sederhana saya lontarkan kepada La Nyalla dan Harbiansyah. Kenapa sih tidak berdiskusi secara langsung? Ia menjawab bahwa pihaknya sangat ingin, tapi Djohar justru selalu menghindar.
Saya tanya lagi, apa tidak takut kalau Ketua Umum PSSI memecat Harbiansyah. Pendiri klub Persisam ini mengaku sama sekali tidak gentar karena ia terpilih oleh anggota di kongres. Jadi ketua sama sekali tidak punya wewenang untuk itu.
Bagaimana nasib kompetisi liga Indonesia? "Kelompok-14 siap bergulir di bawah PT LI yang memiliki perangkat lengkap. Terserah klub lain mau ikut apa tidak".
Lho bukannya itu melanggar aturan? "Aturan apa? Kami ini anggota Exco yang memiliki hak yang sama. Kami tidak melanggar aturan main karena sesuai statuta PSSI," Harbiansyah tetap pada pendiriannya.
Waduh..., rekonsiliasi makin jauh. Tampaknya PSSI butuh mediator mendesak.

No comments: