Selamat Datang di Blog KONI Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, Kita Raih Prestasi Kita Raih Kejayaan Membangun Bumi Bersujud

Tuesday, October 11, 2011

Mimpi Kaki Ayam









Bagi saya, sepak bola adalah alat untuk menghasilkan uang, yang akhirnya menjadi penyebab penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Saya tak sadar bahwa sepak bola dapat membawa kegembiraan yang murni bagi orang lain."
"A Barefoot Dream". Apakah Anda pernah menonton film yang disutradarai Kim Tae-gyun dari Korea Selatan? Film ini mengisahkan kehidupan nyata dari seorang pria Korea bernama Kim Shin-hwan.
Kutipan ucapan di atas keluar dari mulut Kim setelah ia menemukan tujuan hidupnya di Timor Leste. Film ini tak melulu mengisahkan perjuangan hidup Kim. Julukan Guus Hiddink dari Timor Timur merupakan penghargaan kepada Kim atas bantuannya terhadap anak-anak di sana.
Tahun 2003, Kim Shin-hwan menjadi pemburu buaya di Sumatera untuk menutup kerugiannya dari bisnis kayu karena ditipu rekan usaha. Impian menjadi kaya membuat ia berani pergi ke tempat yang orang lain enggan menginjakkan kaki di sana.
Nyaris kehilangan nyawa di Sumatera, akhirnya petualangan hidup Kim membawanya ke Timor Timur. Tapi sekali lagi, rencana berbinis kopi gagal karena ditipu sesama warga Korea yang lebih dahulu "beroperasi" di Dili.
Timor Loro-sa'e, bahasa Tetum untuk Timor Timur yang kita kenal, dijajah Portugis selama lebih dari 450 tahun.
Tahun 1999, ketika Indonesia menarik diri dari Timor Leste, pertarungan antarsaudara tak terelakkan di sana karena milisi pro Indonesia menolak pembebasan tersebut. Tahun 2002, kemerdekaan penuh yang diraih Timor Timur tak menghilangkan kebencian dan konflik antarpenduduk.
Tapi melalui sepak bola, kelompok yang berbeda pandangan soal kemerdekaan itu bisa melupakan permusuhan. Pengalaman sebagai pesepak bola yang pernah tampil membela timnas junior Korsel serta klub sepak bola Hyundai Motors membuat Kim Shin-hwan bisa diterima oleh kedua kelompok.
Kim, yang hanya sanggup membuka toko alat-alat olah raga selama enam bulan di Dili, tak bisa menyangkal dirinya terikat dengan sepak bola. Setelah berulang kali gagal meraih impian menjadi pengusaha kaya, akhirnya Kim memfokuskan dirinya untuk mengembangkan keahlian anak-anak Timor Timur bermain sepak bola, kegiatan yang sangat disukai di sana.
Selain daya tarik kostum dan sepatu bola yang diberikan Kim, latar belakang negara tuan rumah Piala Dunia 2002 dan karier sepak bolanya yang terhenti di usia 30 tahun karena cedera adalah magnet tersendiri bagi masyarakat Timor Timur.
Anak-anak yang tadinya bermain sepak bola tanpa mengenakan alas kaki (barefoot), diperkenalkan dengan sepak bola yang aman dan membantu mereka meningkatkan teknik bermain. Ketika itu, ia berhasil mengumpulkan 40 anak-anak dalam tim asuhannya.
Apakah niat Mr. Kim, demikian ia dipanggil, berjalan dengan mulus? Buah penjajahan yang sedemikian lama adalah hancurnya rasa percaya diri dan kemauan untuk menjadi lebih baik. Kebaikan tanpa syarat adalah hal yang mustahil di mata banyak warga Timor Timur.
Karena tidak memiliki pendidikan yang tepat, perilaku anak-anak di sana tergolong buruk. Mereka yang berlari menendang bola tanpa alas kaki, semasa kecil di Pekanbaru saya mengenal kebiasaan ini sebagai "kaki ayam", kerap hanya tahu bermain-main tanpa memikirkan masa depan.
Sebelum memulai latihan, Kim mengajarkan anak-anak di sana bagaimana bertukar salam dengan sopan. Bahkan sampai harus menunjukkan cara menyikat gigi dengan baik.
"Tujuan utama dari latihan sepak bola yang saya ajarkan bukan untuk mengembangkan teknik, melainkan membangun kepercayaan diri anak-anak," begitu keterangan Mr. Kim dalam sebuah wawancara. "Mereka harus punya visi bagaimana masa depan yang lebih baik."
Tanpa sadar, akibat sering menceritakan kemajuan yang ada di Korea Selatan sebagai pemicu mimpi anak-anak, tanah Timor Timur membuat Kim bangga pada negaranya. "Untuk pertama kali dalam hidup, saya sangat bangga dengan Korea," katanya.
Dua tahun bekerja keras di Timur Timur, ia membawa harapan anak-anak di sana ke tahap yang lebih jauh. Setelah mewujudkan impian memakai sepatu bola, Kim menyakinkan anak asuhnya bahwa mereka pantas berharap untuk bermain di Liga Indonesia.
Siapa sangka, Mr. Kim membuka pintu mimpi yang tak terpikirkan anak-anak Timor Timur ketika tim asuhannya ikut berlaga dalam sebuah kompetisi tingkat junior di Hiroshima, Jepang,
Maret 2004, tim muda Timor Timur bertanding di Piala Rivelino ke-30, kejuaraan sepak bola muda internasional. Hasil enam kemenangan menakjubkan, termasuk mengalahkan tim terkuat Jepang dengan skor 4-2, mengantarkan tim asuhan Kim sebagai juara.
Untuk pertamakali, masyarakat di Timor Leste menggelar parade dari bandara ke pusat kota. Semua orang berkumpul, berpesta, melupakan perbedaan sikap soal kemerdekaan, dan dengan tulus memberi ucapan selamat kepada tim asuhan Kim.
"Saya adalah orang yang sebelumnya tidak tahu apa itu harapan. Anak-anak di Timor Timur menciptakan harapan itu dalam diri saya. Ketika Anda tidak punya harapan, Anda bukan siapa-siapa. Saya tak akan meninggalkan anak-anak yang telah memberi saya harapan." Inilah ucapan Kim Shin-hwan ketika ia menolak tawaran melatih sebuah sekolah elite di Singapura dengan bayaran besar setahun kemudian.
Ketika itu, Mr. Kim memilih bekerja tanpa bayaran bersama anak-anak Timor Loro-sa’e dan hidup memanfaatkan donasi dari Korea Selatan. Kini, ia tercatat sebagai pelatih timnas Timor Leste U-20. #

No comments: