Jayapura layak berpesta rakyat hari Rabu lalu. Persipura hari itu dinobatkan sebagai juara Djarum ISL, kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Tanah Air. Mereka memang mutiara sepak bola dalam arti sebenarnya. Talenta berlimpah, permainan memikat, dan tak pernah kering melahirkan pemain bagus.
Saya masih ingat ketika pada pertandingan final sepak bola PON XIII 1993 di Stadion Senayan, anak-anak (waktu itu) Irian Jaya menghipnotis seisi stadion. Pada laga menarik karena memainkan dua wakil dari dua ujung Indonesia, barat (Aceh) dan timur (Irian Jaya), itu 11 pemain dari Aceh seperti terbius. Mereka tak bisa berbuat apa-apa karena anak-anak Irian memang dahsyat permainannya.
Hari itu, 19 September 1993, Irian Jaya membantai Aceh 6-3. Yang jadi buah bibir bukan hanya gaya permainan memikat tim Mutiara Hitam, tetapi ada gol lewat, maaf, pantat, yang 'dipersembahkan' David Saidui. Bayangkan, itu terjadi di partai final yang disaksikan langsung jutaan pemirsa dari layar kaca.
Dari sisi permainan, saya sendiri masih ingat ketika malamnya ada live Serie A antara Lazio vs Inter yang berakhir 0-0, sempat bilang ke teman-teman, "Pertandingannya jelek, ah, masih kalah sama final PON."
Sepak bola Papua memang unik, terutama bila menyangkut kaitannya dengan timnas. Mereka pernah mau jika pemainnya dipanggil timnas, harus semua. Jangan orang per orang.
Sombong? Lebih tepat mungkin masuk akal dan wajar, walau belum tentu harus diwujudkan.
Chemistry tim Irian Jaya 1993 dan tim Persipura 2011, yang mayoritas diisi pemain asli Papua, memang terbentuk di antara mereka sendiri. Satu-dua pemain dicopot, hilanglah kekuatan itu karena seperti tak ada yang menyatukan.
Amat wajar bila Boaz Solossa dan beberapa pemain Papua beberapa kali mangkir dari pelatnas timnas. Barangkali mereka sama sekali tak berpikir sanksi. Yang mereka inginkan hanya kenikmatan bermain. Bila itu bisa mereka rasakan di Persipura, ya mereka akan mengejar itu. Sebaliknya, bila tidak ada sama sekali jaminan kenikmatan bermain (dan saat tidak bermain) di timnas, mereka tak akan ngoyo. Persipura adalah segalanya.
Tapi, jangan sekali-kali menganggap para pemain asal Papua anasionalis. Mereka tetap cinta Indonesia. Sudah banyak sumbangsih mereka buat Merah-Putih. Timo Kapisa dan Johanes Auri beken pada dekade 70-an. Lalu Rully Nere ikut mempersembahkan emas SEA Games 1987 bagi Indonesia. Boaz, Elly Aiboy, dan sederet pemain ikut berjuang buat timnas kita memasuki milenium baru ini.
Nama-nama yang saya sebut di atas itu baru secuil, lho. Yang berkibar dan sering menghiasi media massa jauh lebih banyak. Mereka bangga akan Persipura dan Papua, tetapi sekaligus mereka juga senang berseragam merah-putih dengan Garuda di dada.
Lantas, sulitkah melebur satu-dua atau segelintir pemain Papua dengan pemain dari daerah lain, bahkan dari negeri lain, menjadi timnas yang tangguh? Tidak ada rumusan baku. Perpaduan itu pernah sukses dan ada kalanya gagal. Itu faktanya. Silakan buka catatan sejarah prestasi sepak bola kita. Yang pasti, klub vs timnas (negara) ala sepak bola Papua ini menarik dikaji.
Di Piala AFC, Persipura sudah melaju hingga ke perempat final. Kalau mereka bisa mengatasi Arbil (Irak), pertanyaan klasik kembali menguak. Perlukah seluruh pemain timnas terdiri dari para pemain Papua?
***
Club versus country sering terjadi di belahan dunia lain. Klub enggan melepas pemainnya untuk membela timnas dengan segudang alasan, sementara negara (lewat FIFA) mengancam sanksi bila pemain tak mau membela negara dengan alasan jelas.Jalan tengah brilian sebenarnya sudah dilakukan FIFA. Sebagai pengganti main pada Sabtu-Minggu lalu Selasa-Rabu, mereka mengubah jadwal pertandingan internasional menjadi Jumat-Sabtu dan Senin-Selasa. Jadi, pemain punya cukup waktu istirahat untuk kembali bermain buat klub pada Sabtu-Minggu setelah membela timnas.
Itu kalau pertandingan di tengah musim kompetisi. Kalau untuk turnamen antarnegara, seperti Copa America yang akhir pekan ini mulai digelar di Argentina, tetap saja nada protes keluar. Klub vs negara kembali mengapung.
Bayangkan, semestinya para pemain yang sebagian besar membela klub-klub Eropa itu sudah kembali dari liburan dan memasuki pemusatan latihan pramusim. Tapi, mereka malah disuruh ikut turnamen.
Akhirnya klublah yang paling banyak mengalah. Karena membela timnas, mereka tak bisa berbuat apa-apa, walau pemain mereka sering kembali ke pemusatan latihan dalam kondisi cedera. Solusinya, klub memberikan istirahat lebih kepada pemain yang bersangkutan. Beberapa laga awal kompetisi musim baru pasti tidak melibatkan mereka.
Untuk turnamen besar, FIFA memberikan kompensasi ke klub asal pemain. Mereka akan menghadiahi klub tersebut sesuai dengan sumbangsih pemain mereka di sebuah turnamen. Misalnya, Barcelona dan Real Madrid. Tentu mereka mendapat hadiah besar dari FIFA karena jasa para pemain mereka amat besar untuk mengantarkan Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010.
Saya pikir PSSI pun bisa menerapkan hal serupa. Ide untuk membagi 'kue keuntungan' hasil kompetisi ke klub sesuai prestasi, itu bagus. Jadi, bila dana dari APBD benar-benar dihapus, tentu itu jadi solusi yang baik.
Namun, untuk mengantisipasi keengganan klub melepas pemainnya ke timnas, tirulah langkah FIFA. Tentu tidak 100% harus sama. Pakailah gaya Indonesia, terutama untuk pemain dari Papua. Saya yakin pengurus baru hasil Kongres 9 Juli nanti tahu caranya.
No comments:
Post a Comment